Karena figur SBY yang rasional dan penuh perhitungan, maka tidur sampai 2024 adalah kalkulasi terbaik untuknya saat itu.
Baru saja mulai tidur pascakehilangan kesempatan kesekian kalinya, kepemimpinan AHY di Partai Demokrat digoyang kader lama partai yang ternyata tak terakomodasi oleh kepemimpinan baru AHY.
Mereka tidak sendiri, ada nama Moeldoko yang menjadi patron barunya. Ributnya konon belum juga usai sampai hari ini.
Yang paling mutakhir adalah saat Cak Imin atau Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangsaan Bangsa (PKB), dilamar secara tiba-tiba oleh Surya Paloh, Partai Nasdem, dan Anies Baswedan, untuk dijadikan bakal calon wakil presiden di laga 2024 nanti.
Peristiwa kali ini nampaknya agak menyakitkan, baik untuk Partai Demokrat maupun untuk SBY, apalagi untuk AHY.
Kali ini SBY dan Partai Demokrat secara kasat mata mengeluarkan watak aslinya, yakni baperan. Nampaknya bagi Cikeas, status AHY sudah selevel “pacar” yang belum dilamar oleh Anies. Karena sudah dianggap “pacaran”, jika Anies “tidak nikah” dengan AHY, maka akan berarti sebagai sebuah pengkhianatan.
Nahasnya bagi Surya Paloh, Partai Nasdem, dan Anies, jangankan sebagai pacar, AHY hanya dianggap sebagai “gebetan”. Jika tak ada situasi yang “darurat, mendesak, terpaksa, mau bagaimana lagi, tak ada lagi pilihan, jalan sudah buntu, dan situasi serupa lainnya”, tidak ada keharusan “memacari” lalu “menikahi” AHY.
Tentu saja sakit. Sebagai manusia, siapapun itu, ditinggal bertunangan oleh orang yang selama ini dianggap sebagai pacar, atau setidaknya gebetan, pasti menyakitkan. Manusiawi banget.
Masalahnya, semua itu terjadi di panggung politik, yang justru tidak mengenal kata-kata indah layaknya dalam hubungan percintaan di antara dua insan manusia.
Menjadi agak lucu jika Anies Baswedan, Partai Nasdem, Surya Paloh, bahkan Cak Imin, berpikir dan bertindak sangat rasional, sementara Partai Demokat, SBY, dan AHY justru emosional.
Semestinya, Partai Demokrat sudah berhitung sedari awal mengapa Anies tak juga serius dengan “sang gebetan”, mengapa Anies terkesan mengulur-ulur waktu, bahkan lebih tepatnya menghindari, untuk memberikan kepastian kepada AHY dan Partai Demokrat?
Tapi nyatanya yang terjadi, Partai Demokrat dan AHY ketika diperlakukan begitu malah semakin berharap. Walhasil, saat Cak Imin mulai kehabisan kesabaran di kubu sebelah, Anies dan Partai Nasdem masuk, lantas “sekonyong-konyong barang itu pun jadi”.
Dan Partai Demokrat tetiba merasa “kesambet petir”, maraung-raung kesakitan, menjual narasi pengkhianatan, meski tanpa pernah “dipacari“ secara serius oleh Anies sebelumnya.
Lantas bagaimana menjelaskan hal ini sampai bisa terjadi di arena politik kita? Saya kira, dua kata saja penjelasannya. Pertama ekspektasi tinggi. Kedua “kebaperan” tinggi.
Walhasil, saat orang mendapat jodoh, rasanya seolah kita yang “bercerai”, meski “nikah” saja belum. Begitulah kira-kira.
(*)



