• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Minggu, 28 Juni 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » Resiko Jadi AHY: Dijadikan Ban Serep, Terperangkap Janji Palsu, Merasa Paling Tersakiti

Resiko Jadi AHY: Dijadikan Ban Serep, Terperangkap Janji Palsu, Merasa Paling Tersakiti

04/09/2023
in Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran, Pengamat sosial dan kebijakan publik, Peneliti di Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM), Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

CAHAYASIANG.ID, Opini – Pada perhelatan Pilkada DKI 2017 lalu, sedari awal, menurut asumsi saya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nampaknya memang tidak meniatkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menang.

Karena bagaimanapun, latar belakang AHY yang bukan politisi dan rentang waktu yang sangat pendek kala itu, jelas merupakan perpaduan ketidakmungkinan yang masuk akal untuk dijadikan alasan.

Sebagaimana watak dan ciri khas politik SBY, langkah yang tepat dan terukur mutlak dilakukan sebelum mengambil keputusan.

Oleh karena itu, menang di DKI Jakarta tempo hari bukanlah sesuatu yang terukur dan masuk akal bagi seorang SBY saat meminta anaknya mundur dari TNI untuk ikut berlaga melawan calon gubernur, masing-masing Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan.

Terbukti, beberapa waktu pasca-Pilkada DKI, pelan-pelan target yang dituju tersebut mulai terlihat jelas. Dibanding panglima berbintang lima sekalipun, AHY nampaknya jauh lebih tenar kala itu. Dan itulah target pertamanya.

Karena dilihat dari peta politik yang ada, jika AHY tetap dibiarkan berkiprah di dalam dunia militer, maka kariernya berkemungkinan besar tidak akan terlalu mentereng lantaran peta kekuasaan yang sedang membentang tentu tidak akan membiarkan itu terjadi. Sehingga untuk tetap bersinar terang, dibutuhkan sebuah terobosan yang disruptif. Opsi yang dipilih ternyata mundur dari dunia militer dan masuk ke dunia politik dengan lompatan yang cepat melejit. Mengapa cepat, karena ada “timing” yang pas, yakni Pilkada DKI Jakarta.

Karena kala itu memang tidak ditargetkan untuk menang, maka angka elektabilitas yang tercatat sekira 20 persen kurang sedikit akhirnya dianggap wajar saja. Cikeas tak meradang, tak banyak cerita, dan tak banyak membela diri, terutama di twitter SBY ketika itu, misalnya.

Tapi tak bisa dipungkiri, nama AHY berkibar jauh lebih luas daripada sekedar hamparan Lapangan Monas.

Karena Pilkada yang diikuti adalah Pilkada Ibu Kota negara Republik Indonesia, lalu berpadu dengan narasi anak seorang mantan presiden yang belum lama pulang kandang, AHY tak pelak mendapat sorotan publik nasional layaknya calon lain yang memang sudah menasional, seperti Ahok dan Anies.

Sempat banyak yang memberikan penilaian, SBY mampu menciptakan exit strategy yang cantik untuk AHY setelah hingar bingar Pilkada Jakarta tahun 2017 lalu usai.

Exit gate itu bernama The Yudhoyono Institute. AHY didapuk sebagai ‘kepala suku’ di sana. Gembar-gembor peluncurannya hampir menyerupai Pilkada DKI. Jokowi didatangi oleh AHY, padahal sekadar mengantarkan undangan peluncuran The Yudhoyono Institute.

Post Views: 14,271
Bagikan ini :
Halaman Selanjutnya
Namun AHY dapat panggung dari narasi lain, yakni...
Page 1 of 6
12...6Next
Previous Post

Minta KPU Diberhentikan Sementara, Ini Pokok Permohonan Bawaslu Kepada DKPP

Next Post

KABAR GEMBIRA Dari BambuSpa Depok, Dapatkan 1 Buah Mini Gold 1 Gram Untuk 1 Orang Top Spender

Next Post

KABAR GEMBIRA Dari BambuSpa Depok, Dapatkan 1 Buah Mini Gold 1 Gram Untuk 1 Orang Top Spender

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In