Oleh: Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran, Pengamat sosial dan kebijakan publik, Peneliti di Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM), Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.
CAHAYASIANG.ID, Opini – Pada perhelatan Pilkada DKI 2017 lalu, sedari awal, menurut asumsi saya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nampaknya memang tidak meniatkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menang.

Karena bagaimanapun, latar belakang AHY yang bukan politisi dan rentang waktu yang sangat pendek kala itu, jelas merupakan perpaduan ketidakmungkinan yang masuk akal untuk dijadikan alasan.
Sebagaimana watak dan ciri khas politik SBY, langkah yang tepat dan terukur mutlak dilakukan sebelum mengambil keputusan.
Oleh karena itu, menang di DKI Jakarta tempo hari bukanlah sesuatu yang terukur dan masuk akal bagi seorang SBY saat meminta anaknya mundur dari TNI untuk ikut berlaga melawan calon gubernur, masing-masing Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan.
Terbukti, beberapa waktu pasca-Pilkada DKI, pelan-pelan target yang dituju tersebut mulai terlihat jelas. Dibanding panglima berbintang lima sekalipun, AHY nampaknya jauh lebih tenar kala itu. Dan itulah target pertamanya.
Karena dilihat dari peta politik yang ada, jika AHY tetap dibiarkan berkiprah di dalam dunia militer, maka kariernya berkemungkinan besar tidak akan terlalu mentereng lantaran peta kekuasaan yang sedang membentang tentu tidak akan membiarkan itu terjadi. Sehingga untuk tetap bersinar terang, dibutuhkan sebuah terobosan yang disruptif. Opsi yang dipilih ternyata mundur dari dunia militer dan masuk ke dunia politik dengan lompatan yang cepat melejit. Mengapa cepat, karena ada “timing” yang pas, yakni Pilkada DKI Jakarta.
Karena kala itu memang tidak ditargetkan untuk menang, maka angka elektabilitas yang tercatat sekira 20 persen kurang sedikit akhirnya dianggap wajar saja. Cikeas tak meradang, tak banyak cerita, dan tak banyak membela diri, terutama di twitter SBY ketika itu, misalnya.
Tapi tak bisa dipungkiri, nama AHY berkibar jauh lebih luas daripada sekedar hamparan Lapangan Monas.
Karena Pilkada yang diikuti adalah Pilkada Ibu Kota negara Republik Indonesia, lalu berpadu dengan narasi anak seorang mantan presiden yang belum lama pulang kandang, AHY tak pelak mendapat sorotan publik nasional layaknya calon lain yang memang sudah menasional, seperti Ahok dan Anies.
Sempat banyak yang memberikan penilaian, SBY mampu menciptakan exit strategy yang cantik untuk AHY setelah hingar bingar Pilkada Jakarta tahun 2017 lalu usai.
Exit gate itu bernama The Yudhoyono Institute. AHY didapuk sebagai ‘kepala suku’ di sana. Gembar-gembor peluncurannya hampir menyerupai Pilkada DKI. Jokowi didatangi oleh AHY, padahal sekadar mengantarkan undangan peluncuran The Yudhoyono Institute.
Namun AHY dapat panggung dari narasi lain, yakni...



