Namun nampaknya mumpung masih bermimpi, maka tidurpun harus dilanjutkan, sembari berusaha menggambar kembali peta jalan untuk AHY, yakni menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.
Dengan nama besar SBY di dalam Partai, AHY mendarat dengan mulus di kursi Ketua Umum partai. Tapi mengingat Partai Demokrat sudah bukan lagi pemain utama di panggung catur perpolitikan nasional, ceritanya kemudian berlalu secara biasa-biasa saja.
Memang cukup ramai pemberitaannya, tapi tidak hadir dengan menarik dan atraktif di lembaran media-media arus utama.
Sebagian publik pun mahfum belaka, la wong anak SBY, kalau jadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat, ya wajar. Yang tak wajar, kalau AHY menjadi Ketua Umum Partai lain.
Dengan alur yang biasa-biasa saja pascapengumuman Kabinet Jokowi jilid II, AHY hampir saja hilang dari ingatan. Tapi tetiba muncul kembali di awal masa pandemi.
Setelah dua pos menteri ‘disantap’ KPK di awal pandemi karena kasus korupsi, muncul wacana reshuffle kabinet. Nama AHY mengekor di belakang nama Tri Rismamaharini dan Sandiaga Uno, sebagai salah satu tokoh yang digadang-gadang akan ikut berlabuh di Istana.
Namun berdasarkan kalkulasi politik para pengamat kala itu, nampaknya Jokowi tidak terlalu membutuhkan sokongan suara Partai Demokrat lagi. Bumper politik Jokowi sudah sangat kuat di parlemen dan jajaran partai-partai politik yang ada. Utamanya setelah Partai Gerindra akhirnya ikut berlabuh di Istana.
Memang ada perhitungan kecil yang banyak diangkat beberapa pihak bahwa Partai Demokrat selama ini digadang-gadang menjadi salah satu persoalan pelik (selain Jusuf Kalla), yang kerap membuat Istana pusing, semisal dikaitkan dengan Aksi 212.
Dengan membawa AHY ke dalam koalisi, diasumsikan ancaman persoalan tersebut bisa diredam.
Tapi dengan nomor buncit yang dikantongi AHY kala itu, setelah Risma dan Sandi, nasib AHY pun kembali sama dengan yang lalu-lalu. SBY boleh jadi perlu tidur lagi untuk beberapa tahun, sebelum bangun membawa mimpi baru, tentunya di 2024.
Karena dari konstelasi pascapemilihan 2019 yang sudah solid, nama AHY kurang diperlukan oleh Istana. Jadi SBY harus kembali tidur dan menerima kenyataan bahwa AHY baru layak sebagai calon dan bakal calon, mulai dari calon Gubernur DKI, bakal calon menteri di kabinet Jokowi jilid II, dan bakal calon menteri di formasi pasca-reshuffle 2020.
Karena figur SBY yang rasional dan penuh perhitungan,...



