CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Saiful Huda Ems mengomentari, Kontroversi seputar isu penyimpangan ajaran agama di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun Indramayu semakin hari semakin seru dan memanas, Jika sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang terdepan bersuara mengkritisi ajaran Syekh Panji Gumilang, yang merupakan pimpinan Ponpes Al-Zaytun, kali ini pentolan-pentolan Front Pembela Islam (FPI) yang sudah dibubarkan oleh Pemerintah, mulai keluar dari sarangnya, dan menunjukkan tantangannya pada Syekh Panji Gumilang. Salah satu di antara mereka adalah Habib Bahar bin Smith.

Menurut alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1985-1991) ini, Dalam suatu tayangan yang saya lihat di Youtube (jika tidak salah merupakan cuplikan pemberitaan dari Tv One), Bahar bin Smith menyatakan akan mendatangi Ponpes Al-Zaytun dan akan menyeret keluar Syekh Panji Gumilang.
“Saya cukup terkejut ketika melihat video itu, dan berpikir kok jadinya seperti ini? Bukankah Syekh Panji Gumilang sudah dilaporkan ke Polisi oleh salah seorang teman advokat yang tergabung di Forum Advokat Pendukung Pancasila (FAPP)? Bukankah Syekh Panji Gumilang sudah diperiksa oleh Bareskrim Polri? Lalu untuk apa Bahar bin Smith harus melakukan provokasi kekerasan seperti itu,” ucap Saiful Huda Ems, Rabu, (5/7/2023).
Dia pun menambahkan, Indonesia bukan penganut Hukum Rimba, Indonesia ini Negara Hukum yang jika ada kejahatan haruslah diselesaikan secara hukum, bukan melalui pengadilan jalanan.
“Sistem Hukum kita juga menganut asas Praduga Tak Bersalah, dimana setiap individu atau kelompok tidaklah bisa dihukum, sebelum terbukti di pengadilan bahwa ia atau mereka telah melakukan kejahatan sebagaimana yang dituduhkan padanya,” kata Saiful Huda Ems.
Bagi Dirinya, Memberikan hukuman pada seseorang atau kelompok sebelum mereka dinyatakan bersalah oleh Pengadilan, maka itu sama halnya dengan melalukan kejahatan, bahkan bisa lebih besar dan lebih berbahaya.
PANJI GUMILANG BERANI MEMBERIKAN KLARIFIKASI SISTEMATIS DAN TERBUKA DI ACARA KICK ANDY “DOUBLE CHECK”
Syekh Panji Gumilang secara berani telah memberikan klarifikasi secara sistematis dan terbuka di acara Kick Andy “Double Check”, dimana Syekh Panji Gumilang melalui Andy F Noya telah menjelaskan berbagai hal mengenai tuduhan-tuduhan yang ditujukan padanya selama ini. Dari wawancara Andy F Noya terhadap Syekh Panji Gumilang itu kita menjadi tau, bahwa keadaan Ponpes Al-Zaytun dan Ajaran Syekh Panji Gumilang tidaklah seangker dan seseram dengan berita-berita yang selama ini kita dengar.
Bahkan kalau menurut saya pribadi, paling tidak ini hanya penilaian awal saya, belum sampai secara menyeluruh dan mendalam saya menyelami persoalannya, apa yang diajarkan oleh Syekh Panji Gumilang, lebih mirip dengan trend pemikiran Islam Liberal, yang sebenarnya sudah sering pernah kita lihat dan saksikan di negeri ini di awal-awal tahun 2000-an yang lalu. Meski tentu ada sedikit perbedaan prakteknya saja. Misal tentang persamaan derajat lelaki dan perempuan, jika Al-Zaytun terlihat dalam shaf Sholatnya, yakni antara Perempuan dan Laki-Laki bisa berdampingan, maka di kalangan pemikir Islam Liberal lainnya dahulu, terlihat ada pada praktek pembagian warisan, dimana laki-laki dan perempuan haruslah mendapatkan harta warisan yang sepadan.
PANJI GUMILANG ANGGAP TIDAK MASALAH AKOMODIR MANTAN PENGIKUT NII/DI TII
Berikutnya mengenai diakomodirnya banyak keluarga mantan pengikut NII/DI TII untuk menjadi santri Ponpes Al-Zaytun, saya pikir ini juga hal yang baik-baik saja, tidak ada masalah. Sebagaimana kata Syekh Panji Gumilang di wawancara dengan Andy F Noya tersebut.
“Kalau anak-anak mantan keluarga pengikut NII tidak boleh diterima di Al-Zaytun, lalu kenapa kita masih mau menerima Prabowo yang merupakan anak mantan pemberontak NKRI? Kenapa pula kita masih mau menerima anak-anak mantan PKI dan lain-lain nya? Ini semua saya tau kenapa saya selalu dipersoalkan, ini karena ada yang sedang mau membidik saya dan Ponpes Al-Zaytun,” tegas Syekh Panji Gumilang.
"Siapa, maksud anda MUI?," Tanya Andy F Noya....






