
CAHAYASIANG.ID, MANADO — Upaya memperluas kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman dan kompetensi internasional terus didorong melalui penguatan kerja sama antara lembaga pendidikan vokasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara.
Hal tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi sekaligus penandatanganan kesepakatan kerja sama yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi vokasi, yakni Politeknik Negeri Manado, Poltekkes Kemenkes Manado, Poltekkes Kemenkes Ternate dan Poltekkes Kemenkes Ambon.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BP3MI Sulawesi Utara AKBP Hendrick Situmorang, SH., S.IK., M.Si., Direktur Poltekkes Kemenkes Manado Dr. Hanung Prasetya, SKP., M.Si., Direktur Poltekkes Kemenkes Ternate Ridwan Yamko, SKM., M.Kes., Direktur Poltekkes Kemenkes Ambon Dr. Betty Anthoineta Sahertian, S.Pd., M.Kes., serta Direktur Politeknik Negeri Manado Dra. Maryke Alelo, MBA.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari pemerintah pusat, termasuk tim dari Biro Keuangan dan Biro Kerja Sama Luar Negeri, serta perwakilan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Kepala BP3MI Sulawesi Utara AKBP Hendrick Situmorang mengatakan, kehadiran tim dari pemerintah pusat menjadi bagian penting untuk memberikan penguatan dan pencerahan terkait program yang akan dijalankan, khususnya bagi wilayah Indonesia bagian timur.
Menurutnya, Kementerian terkait memberikan perhatian terhadap pengembangan program di kawasan timur Indonesia agar tidak tertinggal dalam memperoleh akses dan kesempatan yang sama.

“Bapak Menteri sangat antusias dan sangat perhatian dengan wilayah kita di timur supaya kita jangan lagi tertinggal dengan program ini. Karena itu, hari ini kita gunakan waktu untuk penandatanganan kesepakatan supaya bisa berjalan cepat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Politeknik Negeri Manado Dra. Maryke Alelo, MBA., menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai langkah ini menjawab kerinduan perguruan tinggi vokasi untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada mahasiswa agar dapat belajar dan memperoleh pengalaman di luar negeri.
Menurutnya, pendidikan vokasi sejak awal memiliki filosofi membangun link and match antara institusi pendidikan dan dunia industri. Karena itu, pengalaman mahasiswa di luar negeri dinilai dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat kompetensi mereka.
“Kita sangat merindukan anak-anak kita bisa punya pengalaman ke luar negeri. Sebenarnya ruang kelas itu terbatas untuk memberikan ruang pembelajaran. Ketika mereka keluar negeri, banyak sekali kompetensi yang berkembang,” kata Maryke.
Ia menyebut sejumlah kemampuan yang dapat berkembang ketika mahasiswa memperoleh pengalaman internasional, antara lain rasa percaya diri, kemampuan bertahan dalam situasi sulit, serta kemampuan mengatasi berbagai persoalan.

Namun, Maryke mengakui selama ini masih terdapat kekhawatiran terkait aspek perlindungan dan kepastian hukum bagi mahasiswa yang mengikuti program di luar negeri.
“Kita ingin anak-anak kita ke luar negeri, tetapi...


