Saat itu meminta Pak Hardono untuk menjemput dia dan suaminya yang bernama Black, tinggal di daerah pelosok bernama Cisauk Tangerang.
Sang pasien saat datang di acara itu didapuk untuk bercerita tentang kisah hidupnya.
Kami semua kaget dan juga takjub akan semangatnya untuk tetap bertahan hidup.
“Saya mengandung di usia 16 tahun, oleh dokter disuruh menggugurkan karena menderita tekanan darah tinggi. Saya menolak karena ada nyawa dalam kandungan saya, dan itu adalah titipan dari Allah,” ujarnya rilih.
Atas keputusannya tersebut, lantas membuat dirinya menjadi pasien cuci darah. Ia dan suaminya hidup didera kemiskinan, mencari uang dengan susah payah.
“Suami saya jualan kopi keliling, kami berdua juga memulung barang bekas yang bisa dijual. Walau sudah berupaya keras paling-paling dapat 30 ribu sehari,” ujarnya dengan tersenyum.
Yang membuat kami tambah terharu, Rosidah harus berjibaku saat cuci darah. Pagi buta dia sudah bersama suaminya membelah jalanan dengan motor pinjamannya.
“Berat badanku cuma 30 kg. Agar aku tidak terjatuh dari motor tubuhku diikat dengan tali rafia ke tubuh Black. Jarak Cisauk ke RSCM mencapai 38 km, sangat jauh,” ujarnya dengan susah payah
Rosidah mengalami pengeroposan tulang, punggungnya melengkung, berjalan dengan tertatih-tatih itupun sudah dengan bantuan tongkat.
Ia juga mengalami kanker paratiroid, di dinding mulutnya tumbuh daging, hanya membuat susah berbicara dan kesakitan menelan makanan.
Tapi itulah Rosidah, ia tetap semangat menjalani hidup, apalagi ada anaknya bernama Sabilan Muzaira, dengan taruhan nyawa Rosidah memperolehnya.
Disela waktu tidak cuci darah, ia masih membantu...






