“Koq kayak gini ya ternyata. Lima langkah harus lari, mau makan harus lari, dihukum, gak ada enaknya,” kenangnya.
Di saat yang sama, dia membayangkan orang di luar sana bisa menjalani pendidikan dengan nyaman, yang berkuliah. Sementara dirinya sejak SMA menjalani pendidikan tinggal di asrama, ketika masuk Akabri seakan kembali mengulang keseharian yang sama, bahkan lebih keras dari masa SMA dulu.
Hingga akhirnya, ia menemukan momentum diri untuk tetap semangat menjalani dan menyelesaikan masa pendidikan di Akmil.
Momentum ia dapatkan saat mengikuti sebuah event yang akhirnya berbuah hikmah dan membuat dirinya berjanji akan menjalani dan menjalani pendidikan dengan semaksimal mungkin
“Ada event latihan malam hari, senjata saya hampir hilang. Saya berpikir saya bisa dikeluarkan. Pada saat latihan malam saya terjatuh dan lepas senjata saya entah kemana,” tuturnya.
Atas bantuan warga, senjata yang sempat hilang tersebut akhirnya bisa ditemukan. “Tapi saya jadi peserta terakhir yang masuk ke barak. Dan dihukum karena menjadi peserta terakhir,” ujarnya.
“Tapi setelah itu saya berjanji, kalau memang jalan hidup saya seperti ini saya akan lakukan semaksimal mungkin,” tekadnya saat itu.
Belum selesai sampai di sini, keputusan mengambil jalan menjadi seorang prajurit TNI kembali mendapat tentangan dari kedua orangtua.
Hingga pada saat usai menyelesaikan pendidikan dasar integrasi kemitraan Caprabhatar Akademi TNI selama tiga bulan, orangtua masing-masing Taruna dan Taruni diundang untuk menyaksikan wisuda sebagai Prajurit Taruna (Pratar).
“Ketika bertemu, ibu saya nangis-nangis itu,” ujarnya. “Kenapa kamu masuk sekolah ini lah. Mama masih mampu menyekolahkan kamu,” ucapnya menirukan kata sang ibu.
“Mungkin karena melihat saya pada saat itu ada luka, kurus, jelek gitu kan,” ceplosnya.
Meskipun sempat menangisi kondisinya saat menjalani pendidikan dan...



