“Yang pertama pengumuman STT Telkom, saya masuk. Tapi karena saat itu tidak ada beasiswa, saya menunggu pengumuman yang UMPTN UNDIP,” imbuhnya.
“Nah UMPTN ini pengumumannya bersamaan dengan pengumuman akmil pada saat itu, tanggal 31 Juli 1994,” ingatnya.
Namun pada saat tiba waktunya pengumuman, ia sudah sebulan berada di pemusatan latihan di Akmil dan mengaku tidak memiliki akses untuk melihat daftar calon mahasiswa yang diterima dan diumumkan dalam surat kabar harian nasional.
“Pada saat tanggal 31 Juli saya sudah di dalam, saya tidak punya akses untuk membeli koran. Pantukhir masuk Akabri digelar jam tujuh pagi, kami semua ditanya siapa yang mau mengundurkan diri,” ungkapnya.
“Kita semuanya masih ragu-ragu karena belum dapat tempat. Akan berbeda pada saat itu apabila kita dapat koran duluan. Mungkin saya dan beberapa teman saya mengundurkan diri,” sambungnya.
Dalam kondisi tersebut, dirinya akhirnya memberanikan diri dan memutuskan untuk maju dan melanjutkan ke pendidikan di Akmil.
Namun, sekitar pukul delapan pagi ketika melihat pengumuman yang dimuat dalam surat kabar nasional, namanya masuk dalam daftar calon mahasiswa teknik mesin di UNDIP.
Tapi karena dirinya sudah memutuskan melanjutkan jenjang pendidikan di akademi militer, dirinya mulai menyadari dan menerima mungkin inilah jalan hidupnya.
“Kalau memang jalan hidup saya harus di sini, saya akan melakukan dengan baik,” ucapnya meyakinkan diri.
Bulan Agustus 1994, dirinya mulai menjalani pendidikan dan pelatihan di Akmil. Walaupun telah memantapkan diri memilih jalan hidup di bidang kemiliteran, di masa awal pendidikan rupanya ia sempat merasa menyesal atas keputusannya.
“Di awal-awal sempat menyesal. Jujur, di awal-awal saya sempat menyesal,” ucapnya.
"Koq kayak gini ya ternyata. Lima langkah harus...



