Pada saat itu, ia adalah salah satu dari tujuh orang asal Provinsi Lampung yang lulus dan diterima di SMA Taruna Nusantara di Magelang.
Meski diterima dan lolos masuk menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara, Kristomei muda saat itu masih belum tertarik untuk menjadi seorang militer.
Hal itu terungkap saat dirinya menjalani tes di pusat yang sebelumnya sudah menjalani tes di daerah. Pada saat sesi wawancara, ia mengaku masih tidak tertarik menjadi seorang tentara.
“Ada satu pertanyaan yang menarik pada saat itu saya ditanya oleh jenderal bintang dua angkatan laut. Adik ini setelah nanti lulus dari SMA Taruna Nusantara mau melanjutkan kemana?,” ujarnya menirukan pertanyaan pewawancara.

“Saya jawab. Saya pengen kuliah, saya pengen ambil (jurusan) teknik,” kenangnya. “Waktu itu saya bilangnya ingin (kuliah) ke ITB,” sambungnya.
Mendengar jawaban seperti itu, lanjut Brigjen TNI Kristomei, sang pewawancara bilang, “kenapa tidak masuk akabri?”. “Saya tidak suka ABRI,” jawabnya lagi.
Dirinya ingat saat menjawab itu ketika usianya masih 15 tahun. Jawaban itu keluar begitu saja, ucapnya mengakui.
Namun setelah menjawab seperti itu, dirinya baru berpikir tidak akan bisa masuk atau diterima di SMA Taruna Nusantara. Namun takdir berkata lain, ternyata dirinya lulus dan masuk.
Singkatnya, setelah menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara, pada saat kelas satu dirinya mengaku masih tetap pada pendirian akan melanjutkan ke pendidikan akademik atau kuliah. Memasuki kelas dua, ia mengaku mulai goyah.
Pendiriannya mulai goyah karena saat menjadi siswa di SMA Taruna, dirinya sering menjalani studi wisata ke satuan atau markas-markas pertahanan militer di Indonesia.
“Kami pada saat SMA di Taruna dibawa tuh ada studi wisata ke Akmil, dikenalkan. Kemudian studi wisata ke AAU di Yogyakarta, kemudian kami diajak berlayar dari Semarang menuju Surabaya ke AAL. Jadi akhirnya mempunyai gambaran,” kisahnya.
"Koq agak menarik juga. Apalagi teman-teman satu kelas...



