
CAHAYASIANG.ID, Sangihe – Di tengah semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini kanker payudara, masih beredar informasi keliru yang justru dapat menghambat penanganan medis. Salah satunya adalah anggapan bahwa tindakan biopsi atau pengambilan jaringan pada tumor/kanker payudara dapat memperparah kondisi dan membuat penyakit lebih cepat menyebar.
Spesialis Penyakit Dalam, dr. Aprikonus Loris, Sp. PD., yang juga menjabat sebagai Direktur RSD Liun Kendage Tahuna, menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Menurutnya, biopsi merupakan langkah medis yang sangat penting untuk memastikan diagnosis secara tepat.
“Biopsi tidak membuat kanker menyebar. Justru dari hasil biopsi, dokter dapat menentukan apakah tumor itu jinak, atipikal, atau ganas. Dari situlah pengobatan bisa diarahkan secara tepat,” jelas dr. Loris kepada Media Cahaya Siang saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa (26/8/2025)
Secara garis besar, hasil biopsi terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, jinak (benign), misalnya fibroadenoma, kista, atau fibrokistik. Kedua, atipikal, yaitu adanya sel-sel yang abnormal namun belum sampai pada tahap kanker. Dan ketiga, maligna (ganas), yakni kanker payudara itu sendiri.
“Apapun hasil biopsinya, pasien tetap harus kontrol. Karena setiap hasil punya penanganan yang berbeda. Kalau jinak mungkin hanya operasi lokal. Kalau ganas bisa kombinasi operasi, kemoterapi, atau radioterapi, tergantung kondisi pasien,” tambahnya.
Dengan lakukan kontrol teratur sesuai hasil biopsi sampai tuntas maka anggapan biopsi ( pengambilan jaringan) membuat kanker menyebar tidak terjadi karena pengobatan di tuntaskan. Demikian, dr. Loris mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang menyesatkan. Sebab, keputusan medis berdasarkan biopsi justru dapat menyelamatkan nyawa pasien dengan pengobatan yang lebih cepat dan tuntas. (*Anto)





