CAHAYASIANG.ID, Jakarta – KOMRAD dan KAM Sulut 1998 Frans Eka Dharma Kurniawan yang sering disapa Ances ini memandang Kemenangan Erdogan di Turki, akan membuat politik dagangnya Banting stir ke Rusia dan China.

“Menang Pilpres ke 3 kali, meski krisis ekonomi membayangi,” kata Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) 2005-2015 tersebut pada media ini, Senin (29/5/2023).
Wakil Ketua Exco Partai Buruh Sulawesi Utara ini mengatakan, Apa yang akan kita catat mengenai kemenangan Erdogan terhadap kelompok kiri-tengah, tak berdaya walaupun ada syarat kemenangan yaitu krisis ekonomi membayangi negara.
“Padahal kekuatan politik kiri-tengah mendapatkan momentum yang sama di Amerika Latin dan memenangkan Pilpres,” ujar Ances dalam analisis Geopolitiknya.
Ia menambahkan, Dikotomi politik Kiri maupun kanan, sepertinya mengalami pergeseran cukup signifikan. Namun, Krisis ekonomi biasanya akan mengganggu kekuatan kekuasaan kaum konservatif atau kanan dalam mempertahankan kekuasaan.
“Krisis ekonomi biasanya menandai bangkitnya kekuatan politik kiri sebagai alternatif atas kekacauan ekonomi yang diciptakan kelompok kanan. Yang cendrung konservatif dan pro Neo liberal,” sambungnya.
Menurut Ances, Kasus Turki seperti juga Eropa pada umumnya, menjadi unik dengan segala pergeserannya terkait perang Rusia-Ukraina.
KEMENANGAN ERDOGAN MENAMBAH DAFTAR KEKALAHAN KIRI-TENGAH EROPA, SETELAH KEKALAHAN DI PRANCIS DAN FINLANDIA TAHUN INI
Tentu Erdogan merupakan kasus menarik. Sekalipun dikategorikan politisi sayap kanan konservatif, beberapa kebijakannya berkali-kali bertentangan dengan kepentingan Barat.
Erdogan berani banting stir mendekati Rusia dan China dalam perannya di politik internasional. Erdogan lebih memilih kehilangan proyek bersama AS soal pembuatan pesawat F-35 dan membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.
Kebijakan ekonominya juga agak nyeleneh bertentangan dengan strategi Bank Dunia maupun IMF dalam urusan Bank Sentral Turkiye yang menyebabkan turunnya mata uang Turkiye, Lira.
Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan konflik militer Rusia-Ukraina di laut hitam, Turkiye merasakan langsung gejolak tersebut.
Kehati-hatian terlihat ketika Erdogan menolak bergabungnya Swedia dan Finlandia dalam NATO ditengah krisis militer meningkat di kawasan laut hitam.
Dalam perspektif ini, kekuatan kiri-tengah justru menunjukan secara terang-terangan dukungannya pada barat (Uni Eropa dan AS).
Ini berbeda dengan kekuatan kiri-tengah di Amerika Latin yang tetap konsisten menganggap kekuatan Barat sebagai ancaman, seperti di tunjukan oleh Lula dan Silva Presiden Brazil yang baru terpilih, maupun Pemenang Pilpres dari kelompok kiri di negara Amerika Latin lainnya.
Di Amerika Latin, konflik Rusia – Ukrania memberikan landasan nyata atas hegemoni AS dan sekutu Eropanya sebagai kekuatan imperialisme yang selama ini menjadi masalah bagi negara–negara dunia ke tiga yang jadi korban kediktatoran militer selama perang dingin.berlangsung yang di sponsori oleh AS dan sekutunya. (Dego)






