Terkait isu nasional, seperti proyek Ibu Kota Negara harus diselesaikan dan program pembangunan infrastruktur yang telah dijalankan Presiden Jokowi mesti dilanjutkan. Peserta Musra juga berharap agar jalan tol di Aceh harus segera selesai dibangun.
Para peserta Musra juga menginginkan harus ada Menteri dari Aceh di setiap Kabinet Presiden ke depan, dan siapapun yang menjadi Presiden harus terus melanjutkan agenda kerakyatan maupun program-program Presiden Jokowi, termasuk sering berkunjung ke Aceh seperti dilakukan Jokowi selama ini.
Pada akhir Musra beberapa peserta diminta untuk menyampaikan pendapatnya mengenai kriteria sosok pemimpin nasional ke depan serta siapa calon Presiden dan calon Wakil Presiden diinginkan rakyat Aceh.
Dari beberapa nama yang disebutkan oleh peserta Musra, terlihat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dominan.
Namun, Faisal meyerahkan hasil dari kesimpulan Musra mengenai siapa calon Presiden dan calon Wakil Presiden masih belum dapat disimpulkan, karena hasil tersebut harus dilihat dari isian form dan e-voting yang telah diisi melalui barcode dan alamat link politik.id/MUSRA_ACEH, yang telah disediakan panitia.
E-voting tersebut, hanya dapat diakses hingga pukul 18.00 WIB, yang dibatasi hanya IP Address dari Provinsi Aceh.
Hasil Musra ini, sama halnya seperti di berbagai daerah lain, akan disampaikan kepada Presiden sebelum dibeberkan ke publik menjelang Musra Nasional nantinya.
Sebelumnya, Panitia Musra Nasional melalui kepanitiaan di daerah sudah menggelar Musra di 22 provinsi lainnya di Indonesia, di mana beberapa provinsi digabung satu lokasi pelaksanaan musyawarah tersebut.
Sebagai Informasi tambahan, dari 34 provinsi, tersisa 6 provinsi lagi yang belum diadakan Musra terkait agenda serupa. (*Dego)






