CAHAYASIANG.ID, JAKARTA – Panitia Musyawarah Rakyat (Musra) Indonesia melalui Panitia Daerah menggelar Musra XXIII di Provinsi Aceh yang berlangsung di Aula Vitra Convention Hall, Langsa, Rabu, (15/3).

Menurut Informasi yang baru diterima, Jumat (17/3/2023), Kegiatan kumpulan Relawan Jokowi itu, terlihat ramai dihadiri peserta dari berbagai daerah di Provinsi Aceh.
Sebut saja, petani, nelayan, tukang kebun, guru honor, buruh, tukang becak, pelaku usaha, pekerja sosial dan kemanusiaan, mahasiswa, tokoh masyarakat desa, pedagang kali lima hingga kaum marjinal.
Musra bertajuk “Mencari Pemimpin Rakyat, Melanjutkan Agenda Kerakyatan” itu, berakhir dengan melakukan pengisian form tentang beberapa poin agenda kebangsaan yang telah dibagi ke dalam tiga sesi oleh panitia daerah.

Selanjutnya, Form tersebut dapat diisi semua rakyat Aceh yang menghadiri Musra, maupun tidak hadir langsung tetapi masih dalam wilayah Provinsi Aceh, karena sistem akan membaca dan menerima isian form, serta voting apabila IP Addressnya masih berasal dari Provinsi Aceh.
Ketua Panitia Daerah Musra ke-23 Provinsi Aceh, Faisal, mengatakan kegiatan dihadiri ribuan rakyat Aceh dari berbagai unsur, dan daerah yang ada di Aceh.
“Kegiatan ini kita harapkan menjadi wadah bagi rakyat Aceh untuk menyampaikan harapannya siapa yang akan memimpin Indonesia ke depan. Semoga menghasilkan pemimpin 100% harapan rakyat,” katanya.
Musra tersebut juga diisi oleh panelis berasal dari berbagai daerah. Di antaranya, Muslem Hamidi, Iskandar Dewantara, T. Nasrudin, dan Sugiono, notabenenya merupakan aktivis serta pekerja sosial di tingkat akar rumput rakyat Aceh.
Para panelis, dinilai mampu memantik pembahasan Musra hingga menjadi lebih seru dan menarik, sehingga memacu antusiasme peserta untuk menyampaikan pendapatnya masing-masing.
Pada proses penyampaian pendapat dalam Musra, baik oleh panelis maupun peserta, menghasilkan beberapa poin penting yang menjadi harapan sekaligus keinginan rakyat Aceh kepada calon pemimpin nasional ke depan.
Beberapa poin penting tersebut baik isu nasional maupun daerah Aceh khususnya, seperti masalah sumber daya alam harus dikelola sendiri, persoalan banjir di beberapa daerah, ketersediaan lapangan perkerjaan bagi anak-anak muda yang sangat diinginkan ibu-ibu, karena merasa resah anaknya menjadi pengangguran, dan masalah tenaga honorer.
Selain itu, calon pemimpin harus berlatar belakang bersih dan bukan mantan koruptor menjadi masukan dari suara-suara rakyat Aceh untuk pemimpin ke depan.
Terkait isu nasional, seperti proyek Ibu Kota Negara...






