CAHAYASIANG.ID, Manado – Soal hoax, sudah bukan barang baru lagi di masyarakat. Namun hoax masih tetap saja merajarela dan seakan susah diatasi. Bahkan, hoax masih seperti “vitamin” bagi masyarakat yang dengan begitu saja menerima informasi, terlebih yang beredar di media sosial.
Mengutip dari gramedia.com, menurut KBBI, hoaks adalah sebuah informasi bohong. Para pelaku penyebaran hoaks, mengumpulkan berita yang lalu lala di banyak milis. Sedangkan menurut Ketua Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Fitnah Septiaji Eko Nugroho, hoaks adalah sebuah informasi yang direkayasa. Informasi tersebut dibuat untuk menutup-nutupi informasi yang sebenarnya. Selain itu, hoaks juga merupakan upaya untuk memutar balikan fakta. Fakta tersebut akan diganti dengan informasi-informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
Akademisi senior Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Ferry Liando menyebut, Pemilu 2024 kemungkinan besar akan sulit terhindar dari dinamika hoax. Salah satu sebab penyebabnya adalah motivasi berkuasa yang keliru. Banyak anggapan bahwa jika terpilih pada Pemilu, maka akan lebih kaya, lebih terhormat serta akan leluasa berkuasa untuk kepentingan pribadi.
Karena motivasi keliru ini maka banyak calon yang berusaha menghalalkam segala cara agar terpilih. “Salah satu cara yang kerap digunakan adalah hoax atau penyebaran berita bohong,” tandasnya.
Menurut Ferry, jika penyebaran hoax tidak dicegah, maka akan ada tiga peristiwa besar yang kemungkinan terjadi, berkaitan dengan Pemilu nanti.
Pertama, potensi akan terjadinya konflik. Baik konflik antar peserta, konflik antar pendukung maupun konflik sosial di masyarakat. Konflik bisa terjadi karena proses politik adu domba atau propaganda akibat hoax.
Kemungkinan kedua jika tidak dicegah, maka berpotensi adanya delegitimasi hasil pemilu. Hal ini akan berbahaya karena bisa saja pendukung atau tim pemenangan dari calon yang kalah akan membuat perhitungan atas kekalahannya itu.
“Walaupun hasil pemilu akhirnya dapat di terima, namun dukungan atas pemerintahan yang berkuasa sangat lemah akibat keyakinan masyarakat yang keliru karena penyebaran berita hoax,” sebutnya
Sedangkan kemungkinan ketiga menurut peneliti Pemilu ini adalah jika hoax tidak dicegah, bisa jadi akan mempengaruhi opini publik atas calon-calon tertentu. Calon yang baik akan di anggap buruk. Sebaliknya calon yang buruk akan dianggap baik dan terpilih.
“Pemilu yang seharunya bertujuan agar orang-orang baik akan terpilih namun karena hoax, maka akan mengubah terpilihnya calon-calon yang tidak baik,” tutur Ferry di momen diskusi yang digelar KPU Sulut, Selasa (19/12) kemarin.

Sebab Hoax Rawan Terjadi Saat Pemilu
Menurut pria bergelar doktor ini, terdapat 5 penyebab mengapa penyebaran berita hoax rawan terjadi saat pemilu.
Pertama, adanya kepentingan politik. Pemilu adalah kontestasi atau...






