
CAHAYASIANG.ID, TOMOHON- Kesan pandang remeh kepada warga biasa kembali dipamerkan oleh Pemerintah Tomohon Provinsi Sulawesi Utara. Kaitan kesepakatan dengan Forum Peduli Masyarakat Kayawu (FPMK) yang berdemo pada (30/03/2026), coba dirubah sepihak oleh Camat Tomohon Utara Rickyanto Supit.
“Tadi siang Lurah Kayawu menginformasikan, bahwa Camat mengagendakan pertemuan dengan Pemkot Minggu ini. Tapi lokasinya di Aula Kantor Camat,” ungkap pimpinan FPMK John G. Tampaty pada Senin (13/02026). Karena tidak sesuai dengan kesepakatan waktu aksi damai, jelas John, sehingga pihaknya langsung menolak. “Saya tegaskan, FPMK menolak hadir. Karena dalam percakapan waktu demo, tempat pertemuan dipastikan di Kayawu,” jelasnya.
Mantan Kepala Ktr. Pos di beberapa daerah tersebut mengidentifikasi perubahan tempat, terkait dengan skenario pelemahan posisi tawar massa yang mencari keadilan. “Pemerintah coba ingkar janji. Yang pasti, kami tidak akan menyerah walaupun mereka tetap berkeras dirikan gerai KMP di Lapangan milik warga yang mereka serobot,” tegas John.
Dipihak warga, tekad untuk melawan tindakan semena-mena pemerintah Tomohon terus dikobarkan. “Kami mendukung KMP. Tapi kami menolak gerai dibangun di lapangan milik orang Kayawu. Kami siap pasang badan dilapangan,” tegas beberapa anak muda yang ditemui wartawan di lapangan. Pribadi walikota Tomohon, Carol Senduk, SH tak luput dari “tembakan”.
“Masalah ini sudah jadi perhatian masyarakat luas. Tapi kenapa walikota cuma muncul di vidio, kong salahkan masyarakat. Kalau betul sebagai pemimpin, datang lia wali kota pe rakyat,” kata Ancik dan Ana. Diketahui, konflik antara pemerintah Tomohon dan warga Kayawu dipicu oleh aksi sepihak pemerintah dan pengurus KMP yang membangun gerai KMP di lapangan tanpa musyawarah dengan warga sebagaimana ketentuan.
Hal itu diperparah lagi oleh proses sertifikasi lapangan yang dilakukan diam-diam pada tahun 2023, dan kemudian dihibahkan ke Pemkot Tomohon. Puncak kemarahan warga meledak dalam Demonstrasi terbesar dalam sejarah Wanua Kayawu yang sudah berusia sekitar 169 tahun.
Ribuan warga dari anak-anak sampai Lansia yang jalannya sudah tertatih, bahkan ada ibu hamil, rela berjalan dibawah terik matahari yang membakar. Suatu pengorbanan hebat dari rakyat yang tak ingin lagi ditindas secara halus oleh jaringan penguasa bermental oligarki. (CS-RED)





