Di sisi lain, Mercys Charles Loho yang juga saat ini menjabat Humas dari Persatuan Wartawan Indonesia mengungkapkan keyakinannya bahwa dengan diluncurkannya IMAP Indonesia media akan berperan penting sebagai ujung tombak perdamaian yang dimulai dari Indonesia.
“Saya berkeyakinan bahwa dengan hadirnya UPF, yang di dalamnya diluncurkan IMAP Indonesia, saya akan banyak melibatkan rekan-rekan media dari Sabang sampai Merauke untuk bergandengan tangan bersama-sama menggaungkan suara perdamaian dunia dari Indonesia, bersama UPF dan jaringannya juga,” lanjut Mercys.
Sebagai penutup peresmian IAED dan IMAP, empat ucapan selamat diberikan oleh para pemimpin lokal dan internasional.
Dalam sambutannya, Pres. Masaichi Hori, Presiden Family Federation for World Peace and Unification Asia Pasifik 2, menyampaikan harapannya agar Indonesia yang mulai membangun babak baru, akan berperan besar sebagai pembawa bendera di era baru Asia Pasifik. Dr. Robert S. Kittel, Koordinator IMAP Asia Pasifik, menekankan pentingnya Media yang terus mendidik kita setelah pendidikan formal kita selesai.
“Sebagaimana pendidikan itu penting untuk mengembangkan karakter anak muda kita, keahlian, dan pemahaman tentang dunia di sekitar mereka, media memainkan peran ini dalam masyarakat. Ini sangat penting,” kata Dr. Kittel.
Sementara Ursula McLackland, Sekretaris Jenderal UPF Asia Pasifik, memberikan ucapan selamat yang ke-3. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa menghadiri acara ini secara fisik karena sangat mengenal Indonesia setelah 10 tahun tinggal di negara tercinta Indonesia.
Sebagai penutup, Bapak Louis Pakaila, seorang pengusaha dan Ketua Dewan Penasehat PEWARNA Indonesia, mengungkapkan bahwa Indonesia sedang dihancurkan oleh sekelompok kecil-kecil masyarakat, kita perlu menempatkan media di baris depan sebagai salah satu cara untuk memecahkan masalah untuk mencapai perdamaian.
Karya UPF secara global bertujuan untuk mempromosikan dialog konstruktif di antara para pemimpin dari semua sektor dan dengan keragaman sudut pandang politik, filosofis dan ideologis.
Di dunia yang terlalu sering dicirikan oleh polarisasi dan keengganan untuk secara hormat terlibat dengan mereka yang mewakili “pihak lain”, UPF berusaha untuk mendorong dialog yang lebih luas — sebuah ekumenisme politik yang meruntuhkan hambatan dan memetakan jalan menuju rasa saling menghormati dan memahami. Tidak ada tempat yang lebih membutuhkan pendekatan seperti itu daripada di Semenanjung Korea. Untuk alasan ini, UPF terlibat dengan para pemimpin negara dan partai politik yang bersekutu dengan Korea Utara dan Selatan dan dipandu oleh prinsip-prinsip kehormatan, kesopanan, dan komitmen untuk rekonsiliasi.(rls/cs)





