“Banyak hal yang dapat kita berikan kepada organisasi (YPKM). Saya sampai saat ini ingin membawa kebaya goes to UNESCO. Saya juga ikut terlibat dalam pengurusan kolintang go to UNESCO. Kebetulan saat itu, ketuanya Ibu Lies Purnomo Yusgiantoro istri mantan Menteri Pertahanan. Saya diajak waktu itu, saya sebagai Rektor Universitas Pertahanan,” jelasnya.
Menurut Desi Albert, ini tantanga bagi kita untuk mewujudkan apa yang telah dirintis pendahulu. Perintisnya mala orang Jawa. Awalnya Ibu Lies kemudian ibu Penny Marsetio, istri mantan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Marsetio. “Ini tantagan bagi kita bagaimana membawa budaya Minahasa ke forum nasional bahkan internasional,” ujar Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia dimasa pemerintahan SBY-Boediono ini.
Selanjutnya tokoh keberagaman H. Ali Hardy Kiaidemak, mengusulkan agar masyarakat Minahasa harus berani melakukan yang lebih kreatif dan nuansa baru meski tidah harus meninggalkan budaya warisan sebagai identitas daerah.
“Saya sudah melakukan di daerah saya, Kampung Jawa-Tondano sering disebut Jaton; sebutan untuk satu wilayah keturunan Kiay Mojo di wilayah kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa. Tarian Maengket di sini (Jaton) ada kreasi baru, dimana pakaiannya berbeda dengan biasanya, yakni yang pria pakai blankon dan wanitanya mengenakan kebaya minahasa,” kata mantan anggota DPR RI ini berharap.
Soal Bahasa juga Ia mengusulkan, bahwa masyarakat Minahasa harus mencari bahasa minaesa, yang bisa dimengerti oleh semua suku di Minahasa, seperti Bahasa Manado yang dimengerti semua kalangan. “Kembangkan juga sebutan Tinutuan. Jangan sebut bubur manado karena sering dikonotasikan negative bibir manado yang disalahartikan. “Kiapa so jadi bagini?,” ungkapnya sembari tersenyum lebar.
Kemudian berbicara mewakili tokoh perempuan Minahasa, Dr Telly Kasenda-Sumolang hanya meminta sekaligus mengingatkan agar semua rencana sudah disampaikan sebagai program inti YPKM agar dijalankan dengan baik. “Ini janji yang harus ditepati. Kita mendukung semua rencana kegiatan demi untuk mengembangkan kebudayaan Minahasa, seoerti yang telah disampaikan Ketua YPKM tadi. Mari kita laksanakan lebih baik. Bersama kita bisa,” pungkasnya.
Sebagai pembicara kunci, Dr Ronny F. Sompie, mengajak segenap pengurus juga anggota YPKM agar lebih memperkuat kelembagaan dengan berbagai program kreatif, inovatif dan produktif.
“Torang merayakan HUT jangan sekedar merayakan. Sekarang sudah banyak masukkan untuk pengembangan budaya Minahasa. Kolintang maengket harus ada pengembangan. Maengket dari dulu cuma tiga babak; panen padi (maowey kamberu). nae rumah baru (marambak) dan babak pergaulan muda-mudi (lalayaan),” katanya.
Ronny mencontohkan seperti di Bali. Di daerah wisata ini, di salah satu universitas ada program Pendidikan (Prodi) dimana mahasiswanya hanya bisa lulus jika ada temun atau kreasi baru tarian daerah.
Di Sulut banyak pemikir, model seperti ini harus dimunculkan bukan lagi hanya pada usia Baby Boomers tetapi harus menjangkan generasi X, Y, bahkan generasi Z. Nanti Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) aktifkan semua Roong untuk membantu mengembangkan budaya di masing-masing daerahnya.
“YPKM memang perlu kerja keras. Program aktifnya harus dari bidang-bidang. Ingat Esa kita sumerar kita, sumerar kita esa kita,” pungkas mantan Dirjen Imigrasi ini menutup sambutannya.
Acara peringat HUT ke-6 YPKM berlangsung meriah penuh kekeluargaan ditutup dengan doa syukur dalam dwibahasa oleh Pdt. Audy Wuisang, STh., MSi. Selain pengurus YPKM, sejumlah tamu undangan pun banyak yang hadir sembari menyampaikan ucapan selamat. Kegiatan ditutup dengan resepsi makan masakan minahasa 100 persen halal. (red/WL)






