CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Moeldoko menilai perkembangan Motor listrik di Indonesia semakin berkembang dengan hadirnya sejumlah produsen sehingga, memunculkan perdebatan terkait metode pengisiannya, dan memunculkan pertanyaan mana lebih baik antara Sistem Tukar Batrei (Swap) atau Di Cas Langsung.

Selaku Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik (Periklindo), Moeldoko mengatakan, Kedua metode tersebut sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan.
“Untuk itu, semuanya akan dikembalikan ke masyarakat mana yang membuat mereka lebih nyaman,” ujar Moeldoko dalam keterangan, di JIEXPO Hall A, Jakarta, Minggu (21/5/2023).
Metode Swap dianggap paling praktis. Namun, bagi pemilik motor listrik harus merelakan baterai yang mereka beli dari awal ditukar. Sementara, untuk pengisian langsung, pengecasan baterai tanam membutuhkan waktu lama tapi bisa dikontrol pengecasannya.
Dari sisi bisnis kedua skema pengisian baterai motor listrik, menurut Moeldoko, ini juga memiliki kekurangan.
“Hal ini juga perlu dibahas oleh seluruh pihak agar tercipta satu pandangan,” kata Panglima TNI Periode 2013-2015.
Selain itu, Moeldoko menjelaskan, Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.
“Kalau swap itu, modalnya gede karena dia harus menyiapkan baterai itu beberapa. Namun, Kalau saya jadi pengusaha swap, minimum menyiapkan dua baterai. Kalau yang biasa tidak sebesar itu modalnya, Jadi keduanya berbeda,” urai Kepala Staf Kepresidenan ke-3 di Era Presiden Jokowi.
Moeldoko mengungkapkan, bahwa produsen kendaraan listrik yang akan menentukan jenis baterai.
“Untuk itu, penting melakukan pertemuan dari berbagai industri demi mempercepat prosesnya. Saya pikir nanti akan mengikuti industrinya. Tetapi, Kalau saya punya perusahaan sepeda motor, saya harus setting ini bisa pakai swap atau biasa. Ini yang harusnya dipikirkan oleh para pebisnis, kalau tidak nanti malah terpecah,” ucap Tokoh yang disemati julukan Moeldoko Penjaga NKRI. (Dego)






