Akhirnya enam besar peserta lomba terpilih dan maju ke putaran kedua. Mereka kembali membacakan puisi pilihan mereka dan ketiga juri kembali melihat, mendengar dan menghayati sejauh mana puisi dan cara baca mereka, apakah mampu menyentuh relung hati atau hanya sekadar membaca, belum mampu memberikan makna dan arti.
Juri berkumpul lima menit untuk menjumlahkan nilai masing-masing, sampai akhirnya diperoleh pemenang pertama, kedua dan ketiga, serta tiga peserta juara harapan.
Inilah urutan pemenangnya: M. Roni (Emroni) dari Radio Suara Banjar menempati urutan pertama, membawakan puisi karya Taufik Ismail dengan judul Sebuah Jaket Berlumuran Darah. Urutan kedua ditempati Suroto dari Newsway.id yang membaca puisi Sutardji Calzoum Bachri dengan judul Jembatan dan juara ketiga ditempati Rini Muliana dari TVRI Kalsel dengan bacaan puisi karya Chairil Anwar berjudul Diponegoro.
Pembaca puisi harapan adalah Ratna Sari Dewi dari TVRI Kalsel dengan bacaan puisi berjudul Elegi 10 November, Herwan dari Prime TV dan Agus Suprapto dari kanal.kalimantan.com membacakan Kembalikan Indonesia Kepadaku karya Taufik Ismail. Para pemenang memperoleh hadiah total uang Rp15 juta.
Malam semakin tinggi, waktu menunjukkan pukul 22. 45 Wita, acara lomba baca puisi pun berakhir. Keesokan malamnya pada acara gala dinner di kediaman Gubernur, H. Muhidin, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berkenan bertemu muka dengan para pemenang sembari menyerahkan hadiah.
Siapa para pemenang itu?
Juara pertama yang Bernama Emroni (M. Roni), yang tampil dengan kostum tentara masa doeloe, lansir media setempat, nama panggungnya adalah Ronny Lattar. Ronny kesehariannya bekerja di Radio Suara Banjar (RSB) di bawah naungan Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (DKISP) Kabupaten Banjar. Ia mengaku menghadapi lomba di depan publik itu, ia tidak ada persiapan khusus.
“Alhamdulillah hasilnya seperti ini. Persiapan khusus tidak ada, tapi empat hari latihan pasca mendaftar saya rasa cukup. Kadang di kantor latihan usai kerja, dibantu teman-teman jurnalis lainnya, teman-teman banyak berikan masukan ke saya,” kata peraih 19 kali juara lomba yang sama tingkat Kabupaten Banjar dan 4 kali juara umum tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.
Ronny mengatakan, ia tertarik mengikuti lomba, selain berpartisipasi memeriahkan HPN ia juga merasa tertantang lantaran dewan juri yang dihadirkan panitia adalah juri berkompeten dan belum pernah berjumpa ketika ikut lomba.
“Luar biasa panitia bisa mendatangkan dewan juri berkelas, mereka sangat berkompeten dan bukan kaleng-kaleng, itu yang membuat saya tertantang. Apalagi peserta dari list juga ada teman-teman jurnalis asal Jakarta, Jambi dan Sumatera Utara, pasti seru,” tuturnya.
“Mereka Berkata // Semuanya berkata // LANJUTKAN PERJUANGAN//. Itu diteriakkan Ronny ketika menutup puisi karya Taufik Ismail, Sebuah Jaket Berlumuran Darah.
Juara kedua siapa?
Suroto namanya, ia adalah redaktur Media Online newsway.co.id, Suroto, akrab disapa dengan panggilan Isuur. “Saya gembira bisa ikut lomba apalagi dapat hasil juara kedua dan dapat hadiah uang,” kata Isurr, lulusan ISI Yogyakarta.
Suroto mengawali bacaannya dengan kalimat : //Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung air mata bangsa // Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi // Dalam ewuh pakewuh // Dalam isyarat dan kilah tanpa makna // (Sutardji Calzoum Bachri – Jembatan).
Rini Muliana Ichsan dari TVRI Kalsel, menempati urutan ketiga pada lomba baca puisi itu. Penyair wanita ini memiliki segudang profesi, di antaranya sebagai jurnalis, moderator, MC, presenter dan public speaker.
“Maju / Serbu, /Serang / Terjang,” kata Rini ketika mengakhiri membaca pusi Diponegoro karya Chairil Anwar.
Akhirnya, seperti kata Taufik Ismail: //Semua kita berkata: // LANJUTKAN PERJUANGAN//. (*)





