Oleh: Om Lole/Aktivis/Jurnalis/Koordinator Umum Tim Wartawan Ba Carita Sulut.
CAHAYASIANG. ID – SEBETULNYA peran dari Relawan tidak sekedar memotret kecenderungan pemilih (masyarakat), atau calon pemilih. Lebih dari itu Relawan bekerja menjadi partisan, berafiliasi dengan kepentingan politik.

Tetapi sulit disebut “Relawan Tanpa Pamrih” jika dihati memiliki maksud yang tersembunyi dalam memenuhi keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi dan sebagainya.
Salah satu peran penting relawan adalah menginisiasi lahirnya program atau gerakan kebaikan dan bukan melahirkan hal-hal yang buruk sehingga memicu ketegangan politik di repoblik ini
Sadar atau tidak, suhu politik di repoblik ini semakin panas menjelang Pemilu 2024. Mesin partai sudah mulai dipanaskan dan barisan Relawan atau masing-masing kubu mulai menjagokan idola nya masing-masing dengan melemparkan isu berwarna-warni, tak heran ada yang mulai terperosok pada kalimat-kalimat yang dibangun dengan gaya dan tata bahasa yang dianggap salah sehingga dilaporkan kepada APH. Dan publik menduga bahwa pihak yang melaporkan salah satu Relawan Ganjar ke APH adalah reaksi dari sikap anti kritik dari pihak lawan dan tak mampunya bersaing ide dan gagasan.
Pemilu harus jadi ajang adu ide dan gagasan serta memancarkan kebaikan bukan saling menghina dan menebar kebencian apalagi lapor-melapor ke aparat kepolisian.
Sebentar lagi Rakyat Indonesia akan memegang surat suara, harus nya kita semua mengutamakan persatuan. Pilihan boleh beda, tapi kita harus sadar bahwa, merah putih kita sama.
Disisi lain, merah putih kita sama. tapi dalam hal pemilihan Presiden dan Wakil Presiden kita harus hati-hati. Itulah mengapa kita harus memilih Presiden dan Wakil Presiden yang sudah pengalaman agar bangsa ini bisa mendapatkan arah yang jelas dan bertanggung jawab. Kita tentunya tidak pernah berharap lebih dari 273 juta penduduk Indonesia yang terbang bersama pesawat RI menjadi korban oleh karena salah memilih pilot.
Pilihan hari ini tidak hanya akan berdampak pada 5 tahun masa periode namun lebih dari itu terhadap kelangsungan jangka panjang bangsa kita.
Menjelang Pemilu kali ini, aplikasi tiktok, twitter, youtube, instagram, facebook serta media online lainnya, dihiasi dengan berbagai macam tontonan dari masing-masing kubu. Perang isu mulai terlihat ada yang mulai melemparkan sindiran-sindiran pedas satu dengan yang lain dan ada pula yang melemparkan isu sejarah 98 dan ada pula yang melemparkan isu Politik Dinasti dan ada juga yang melemparkan isu konflik kepentingan dan isu MK. Dan ada yang lebih menarik lagi dari media Tempo dan Kumparan.com ketika membahas soal isu Tahta, Harta dan Iriana.
Bukan rahasia umum lagi di setiap menjelang pemilu suhu politik di Repoblik ini pasti makin panas dan debat politik makin menarik untuk di tonton karena disana kita akan melihat mana pemimpin yang cerdas dan jujur dan mana pemimpin yang tercipta karna aji mumpung dan minim pengetahuan karna tercipta melalui proses instan dan bukan melalui proses yang panjang seperti menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di puncak kesuksesan seperti yang Cawapres Mahfud MD katakan.
Berbicara soal Relawan, Yang membedakan disini adalah, pergerakan Relawan Pamrih dan Relawan tanpa Pamrih. Dengan kata lain ada relawan yang sehat dan ada juga relawan yang tidak sehat. Ada yang ingin pemilu damai tapi ada juga yang terlalu baper sehingga konflik terjadi.
Contoh konkret, beberapa minggu yang lalu publik diberikan tontonan yang sangat menyedihkan, dimana salah satu mantan Jurnalis senior dan juga sebagai Juru Bicara Tim Pemenangan Nasional (TPN) Calon Presiden dan Wakil Presiden Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Aiman Witjaksono, dilaporkan ke Polda Metro Jaya soal isu Polri tak netral pada Pemilu 2024. Laporan itu terdaftar dengan nomor, LP/B/6813/XI/2023/SPKT/POLDA METRO JAYA, tertanggal 13 November 2023.
Juru Bicara Aliansi Elemen Masyarakat Sipil untuk Demokrasi...






