CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Merangkum berbagai informasi media luar negeri, Minggu (4/6/2023), Ukraina telah menolak proposal Indonesia untuk penyelesaian damai dengan Rusia, alasan mereka bahwa rencana Indonesia hanya akan melayani kepentingan Rusia.

Sementara itu, Penasihat utama Presiden Vladimir Zelensky, Mikhail Podoliak menulis di Twitter, Sabtu (3/6/2023), bahwa peta jalan itu terus terang terlihat seperti kembaran dari proposal Rusia… tentang penyerahan [Ukraina].
Menurut Dirinya, rencana gencatan senjata yang diusulkan Menteri Pertahanan Indonesia (Prabowo Subianto) sama saja dengan menyerah ke Rusia.
Selaku Penasihat Utama Presiden Ukraina, Dirinya menegaskan posisi Kiev, bahwa satu-satunya proposal yang realistis, adalah Rusia menarik diri dari wilayah kedaulatan Ukraina.
Secara lantang Juru bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Ukraina, Oleg Nikolenko, bersikeras bahwa Rusia harus menyerahkan wilayahnya yang baru bergabung, yang menurut Kiev diduduki secara ilegal.
“Tidak ada skenario alternatif,” kata Jubir Kemenlu Ukraina, dalam sebuah postingan di Facebook.
Oleg Nikolenko menambahkan, Gencatan senjata tanpa penarikan pasukan Rusia dari Ukraina, akan memungkinkan Rusia mendapatkan waktu, berkumpul kembali.
“Membiarkan wilayah pendudukan, dan mengumpulkan kekuatan untuk gelombang agresi baru,” bebernya.
INDONESIA MELALUI MENTERI PERTAHANAN PRABOWO SUBIANTO MENYARANKAN REFERENDUM YANG DI SPONSORI PBB
Saat berbicara di forum keamanan Dialog Shangri-La di Singapura Sabtu, (3/6/2023) Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, menyarankan agar pasukan Rusia dan Ukraina mundur 15 km dari posisi mereka saat ini.
“Agar menciptakan zona demiliterisasi yang akan dipantau oleh penjaga perdamaian PBB,” jelas Prabowo Subianto.
Selain itu, Prabowo Subianto mengusulkan, mengadakan referendum yang disponsori PBB, untuk menentukan wilayah saling bersengketa di masa depan.
RUSIA SEJAUH INI BELUM MENGOMENTARI PROPOSAL PERDAMAIAN TERSEBUT...






