
CAHAYASIANG.ID, Sulut – Produksi Beras Sepanjang Tahun 2024 di Sulut sebesar 153,48 Ribu Ton menurut pencatatan BPS, Sedangkan Produksi Padi Semester I Tahun 2025 pada bulan Januari hingga Juni di era Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus (YSK), dengan Wakil Gubernur Johannes Victor Mailangkay (Victory) 254.593 Ton menurut data yang dikeluarkan dinas terkait di Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Peningkatan Produksi beras di Bumi Nyiur Melambai tidak selaras dengan harga pasar, namun tidak bisa kita salahkan ke Pemerintah Daerah saja, karena itu terjadi pada berbagai wilayah di Tanah Air.
Petani Milenial Minahasa, Falen Umbokahu melihat anomali saat ini, khususnya harga beras permasalahannya bukan berada di Pemerintah Daerah melainkan dari hulunya.
“Riskan lihat anomali harga pasar sekarang, cuma masalahnya bukan di Produksi Petani. Melainkan industri beras itu sendiri dengan label masing-masing. Kedepan butuh kolaborasi terpadu dengan Koperasi Merah Putih supaya pasokan lebih presisi,” beber Ketua Beta Gibran Minahasa, Sabtu (12/7/2025).
“Contohnya, Produksi Beras tahun 2024 dibanding Semester 1 Tahun 2025 beda 100 Ribu Ton, lebih banyak Produksi setengah tahun sekarang? Berarti kinerja YSK-Victory dalam menggenjot produktivitas Petani Padi lebih bagus,” sambung kader Gerindra Minahasa ini.
Lebih lanjut, Ketua Beta Gibran Minahasa tersebut juga menekankan, Pentingnya memutus rantai pasok panjang notabenenya merugikan petani dan hanya menguntungkan Middle Man (Tengkulak).
“Produktivitas pertanian meningkat itu rumusnya sederhana. Pertama punya bibit unggul, Kedua pupuk tidak sulit di akses, Ketiga irigasi stabil, Terakhir Alsintan harus ada sesuai tanaman produksi sendiri,” tutup Pemegang Mandat pembentukan IKA GMNI Sulut. (Deon)





