• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Saturday, 16 May 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » Pilpres 2024 dan Ujian Kredibilitas Lembaga Survei

Pilpres 2024 dan Ujian Kredibilitas Lembaga Survei

12/12/2023
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter

Opini: Om Lole: Aktivis,Jurnalis,Koordinator Umum Tim Wartawan Ba Carita Sulut.

CAHAYASIANG.id – Independensi Lembaga Survey Dipertanyakan, Condong Seperti Konsultan Politik Salah Satu Calon Pilpres.

Om Lole (Aktivis, Jurnalis,Koordinator Umum Tim Wartawan Ba Carita Sulut)

Pilpres 2024 bakal menjadi pertaruhan kredibilitas lembaga survei. Pasalnya, rilis hasil survei yang dikeluarkan bikin masyarakat bingung. Bahkan bertanya-tanya.
Contohnya, melihat hasil yang dikeluarkan salah satu lembaga survei. Sebut saja LSI.
Dimana, kenaikan suara salah satu calon sangat signifikan. Hasil ini terkesan memiliki tendensi tertentu. Seakan hasilnya memihak salah satu pasangan calon tertentu.

Ketika lembaga survei dalam pendapatnya mengubah persepsi masyarakat dan berkesimpulan secara periodik dan terus menerus menguntungkan salah satu calon pertanda bahwa ini sudah bukan lembaga survey. Tapi sudah jadi lembaga konsultan politik salah satu calon atau partai tertentu.
Maka nyata bahwa hal ini sudah menciderai norma dan etika berdemokrasi.

Dan lembaga survei yang awalnya berdiri sesuai maksud dan tujuan yang baik bagi rakyat berubah haluan.
Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap dunia ilmu pengetahuan dan juga survey seperti ini mendorong masyarakat jauh dari edukasi demokrasi dan pendidikan politik masyarakat. Hal ini dapat kita lihat metode penelitian survey yang dilakukan. Datanya tidak valid, random dan bahkan analisis data serta argumen dilakukan seolah-olah langkah politik sudah dipandu untuk menjadikan survey menjadi pembenaran. Ini dapat dilihat dari argumen di medsos pemimpin survey terlalu memihak.

Seolah-olah ada pesan sponsor dan hasil survey by order untuk mempengaruhi rakyat supaya terwujud satu putaran. Di sini, kita diajak untuk percaya dan bahkan kita didorong jadi rakyat manipulatif, munafik dan jauh dari prinsip kebenaran.
Sekadar diketahui, hasil survei LSI, sejak 22 Oktober sampai 10 Desember atau 48 hari, elektabilitas Prabowo naik 9,7%.
Angka 9,7% itu jika dikonversi dengan jumlah suara dengan basis DPT 204 juta maka itu senilai dengan 19,8 juta suara.
Jadi suara Prabowo bertambah 19,8 juta hanya dalam 48 hari atau rata-rata tiap hari tambah 416.000 suara.
Jika survey LSI itu dianggap suatu kebenaran, maka pertanyaannya adalah bagaimana Prabowo bisa mendapatkan tambahan 416 ribu suara setiap hari?
Isu apa yg mampu membuat dalam 48 hari ada 19,8 juta suara pindah ke Prabowo.
Narasi sekuat apa dan mesin amplifikasi sebesar apa yang bisa membuat 19,8 juta suara pindah dalam 48 hari? Mesin dari Bong bong, mesin Mossad, CIA atau KGB pun rasanya gak mampu membuat pergeseran suara sebesar itu.

Kesalahan besar apa yang dilakukan Ganjar? Siapa yang dihina atau dinistakan Ganjar sehingga ada kemuakan luar biasa yang membuat 19,8 juta suara pindah ke Prabowo? Bahkan, kalau kita gunakan Pilkada DKI sebagai perbandingan maka tuduhan penistaan Agama dan diriingi demo berjilid-jilid saja tidak mampu menggeser suara sebesar dan secepat ini.
Apakah ada pergeseran nilai sehingga mengkritik Jokowi bahkan lebih berdampak elektoral dibanding yang terjadi di pilkada DKI?
Sebaliknya kebaikan semulia apa yang dilakukan oleh Prabowo Gibran atau Jokowi sekalipun sehingga dalam 48 hari tiap hari rata-rata 416 ribu suara pindah ke Prabowo?
Alat Peraga Kampanye seperti apa dan dalam jumlah sebanyak apa serta pola apa yang bisa membuat 19,8 juta suara pindah ke Prabowo?
Setahu saya tidak ada kesalahan luar biasa baik dari Ganjar Mahfud yang membuat tiba tiba 19,8 suara pindah begitu saja ke Prabowo Gibran. Begitu juga saya tidak menemukan ada kebaikan yang luar biasa dan mulia yang membuat dalam 48 hari sanggup merubah pilihan 19,8 juta orang.

Kalau mau menggunakan data dalam dinamika politik, selama 1 bulan ini justru ada banyak sentimen negatif yang menerpa Prabowo Gibran seperti Mahkamah Keluarga, Politik Dinasti, Perubahan aturan wali kota yang ikut menjadi capres/cawapres. Perubahan aturan debat, baliho ‘misterius’ yang tersebar se-Indonesia dalam hitungan hari dan lain-lain.

Lucu kan, yang buat banyak salah itu Prabowo Gibran lalu kenapa yang ditinggalkan Ganjar Mahfud?
Apakah istilah Gemoy dan perubahan unsur kimia dalam Asam Folat hingga bisa menjadi Asam Sulfat punya kemampuan meyakinkan 19,8 juta orang untuk pindah dalam 48 hari?
Kalau tidak ada kejadian dan isu yang luar biasa terjadi untuk pergeseran suara yang signifikan itu maka alasan memungkinkan adalah error sampling dalam metode survei. Kalaupun itu terjadi maka sangat layak seluruh lembaga survei mengevaluasi metode-metode surveinya untuk hasil yang lebih kredibel.

Kalau tidak, proses demokrasi Indonesia berada di jurang dalam Politik Indonesia.
Hal ini nampak dari cara picik dan licik mencoba menghancurkan jati diri demokrasi warga indonesia yang memiliki modal intelektual kaya akan prinsip kebenaran dan moralitas serta rasa tangung jawab tinggi. Karena memiliki akar budaya politik sehat dan bermartabat. Demokrasi Pancasila selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan.

Post Views: 2,269
Bagikan ini :
Previous Post

Kehabisan Akal, Ratumbanua : “Mana Ada Pasar Yang Tidak Bau”

Next Post

Pemda Sangihe Melalui DP3A Minimalisir Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak Dibawah Umur

Next Post

Pemda Sangihe Melalui DP3A Minimalisir Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak Dibawah Umur

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In