• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Sunday, 19 April 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » Opini Saiful Huda Ems : Tak Mungkin Istana Dan Moeldoko Jadi Backingan AL-ZAYTUN.

Opini Saiful Huda Ems : Tak Mungkin Istana Dan Moeldoko Jadi Backingan AL-ZAYTUN.

27/06/2023
in Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Kontroversi seputar ajaran sesat yang diajarkan oleh Syekh Panji Gumilang di Pondok Pesantren Al-Zaytun, dan diprotes oleh banyak tokoh masyarakat Islam, tidaklah mungkin dibackingi oleh Istana terlebih oleh Kepala Staf Presiden RI, Moeldoko.

Menurut Saifu Huda Ems, Selasa (27/6/23), Hal ini jelas tidak logis, mengingat Ponpes Al-Zaytun sudah berdiri sangat lama (1 Juni 1993), jauh sebelum Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden RI (2014-2024), juga jauh sebelum Moeldoko menjadi Panglima TNI dan kemudian menjadi Kepala Staf Presiden (KSP) sejak 17 Januari 2018.

Tampak Dari Udara, Ponpes Mahad Al-Zaytun di Indramayu Jawa Barat

Selain itu, jika benar ideologi keagamaan Syekh Panji Gumilang telah menyimpang, dan sebetulnya sangat kontraproduktif tuduhannya, sebagai pengajar ajaran Islam sesat yang ke Yahudi-Yahudian dan ke Komunis-Komunisan, di sisi lain Ponpes Al-Zaytun pimpinan Syekh Panji Gumilang juga ditengarai sebagai kawah candradimukanya para penerus dan keturunan pemberontak NKRI yang dahulu tergabung di gerombolan Negara Islam Indonesia (NII).

Jadi bagaimana bisa Yahudi, Komunis dapat membaur dengan Gerakan NII? Bukankah ini sesuatu yang tidak masuk akal?

MOELDOKO MASIH MEMEGANG TEGUH SUMPAH PRAJURITNYA

Tim investigasi yang menyelidiki kesesatan penyimpangan ajaran di Ponpes Al-Zaytun, haruslah ekstra teliti dan hati-hati untuk mengungkap kasusnya. Ini semua demi dan untuk menyaring suatu persoalan, agar dapat benar-benar menghasilkan keputusan yang jernih terhadap masa depan Ponpes Al-Zaytun. Jika benar telah ditemukan kesesatan atau penyimpangan ajaran Islam, Kementerian Agama (Kemenag) harus berani memberinya sanksi yang tegas, entah berupa penutupan Ponpesnya, ataupun menghukum para pimpinannya melalui jalur pengadilan negeri.

Presiden Jokowi sangatlah jelas corak pemikirannya, beliau seorang nasionalis tulen dan tidak terlalu banyak terlibat dengan ormas-ormas keagamaan. Menghubungkan Presiden Jokowi dengan penyimpangan ajaran Islam oleh Syekh Panji Gumilang di Ponpes Al-Zaytun, itu sama halnya dengan mencoba mengait-ngaitkan antara Bung Karno dengan ajaran Lia Eden, sangat tidak nyambung. Hanya gerombolan yang sudah ngebet ingin menjatuhkan Presiden Jokowilah yang bernafsu untuk memfitnahnya.

Pun demikian dengan Moeldoko, beliau Jenderal TNI (Purn), mantan Panglima TNI yang masih memegang teguh sumpah prajurit yang harus melindungi NKRI bersama ideologi negaranya, Pancasila. Dimana sejak zaman dahulu, TNI lah yang pertamakali berhadapan dengan NII dan menumpasnya, lalu bagaimana mungkin Moeldoko dihubung-hubungkan dengan penyimpangan ajaran sesat Syekh Panji Gumilang yang ditengarai ingin menghidupkan Gerakan NII kembali?

Ini kan sama dengan orang yang ingin memaksa menghubung-hubungkan antara gerilya perang Jenderal Sudirman dengan gerakan provokasi Bahar Smith? Tidak nyambung sama sekali bukan?

Di awal tahun 2000 an, saya pernah jalan-jalan ke Ponpes Al-Zaytun bersama keluarga. Melihat bangunan gedung-gedungnya memang sangat megah, panjang pagar luar pondoknya luar biasa. Saya bertanya, siapa nama pemimpinnya?

Jawab mereka, Syekh Panji Gumilang. Asli orang mana? Tanya saya kembali. “Gresik Jawa Timur,” kata Mereka.

Jawab santri-santri disana serempak. “Haaa? Kok sama dengan saya, asli Wong Gresik,” Kata saya. Langit mulai gelap, kami bersama keluarga pulang. Saya melihat banyak papan-papan reklame di sekitar halaman Ponpes yang bertuliskan Semen Gresik Kokoh Tak Tertandingi.

Setelah keluar dari pintu gerbang Ponpes Al-Zaytun, saya baru sadar. Eeeh…ini kok aneh sekali ya, Ponpes Al-Zaytun itu begitu luas dan megah, namun kenapa semua jalan keluar dan masuk menuju Ponpes jalannya rusak semua, berantakan dan seperti tak terurus? Lah kalau pejabat atau orang-orang penting istana mau ke Ponpes Al-Zaytun itu melalui jalan mana ya?

PONPES Al-ZAYTUN BERDIRI DI ERA PRESIDEN SOEHARTO

Selidik punya selidik, semua orang penting istana (di era Pemerintahan Soeharto dan SBY), jika mau masuk ke Ponpes Al-Zaytun tidak akan melewati jalan darat, melainkan udara dengan Helikopternya.

Terus siapa orangnya yang membantu dana begitu besar pada pesantren itu kalau bukan konglomerat atau penguasa? Tanya saya kembali dalam hati. Tak seberapa lama saya mendapatkan jawabannya, meski harus diselidiki kembali kebenarannya.

Keluarga Cendanalah yang banyak memberikan bantuan padanya, dan ingat, Ponpes ini berdiri bukan di era Presiden Jokowi, melainkan di era Presiden Soeharto yang di akhir masa jabatannya terlihat sangat mesra dan berhubungan manis dengan kelompok-kelompok garis keras Islam.

Kelompok Islam Moderat kala itu hanya diberi permen mainan saja, hingga Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pengurus-pengurusnya tak lagi kompak, dan tokoh-tokohnya berjalan sendiri-sendiri, bahkan akhirnya turut menjatuhkan Presiden Soeharto dan BJ. Habibie. (Dego*)

Post Views: 2,949
Bagikan ini :
Previous Post

AHY Bermanouver Ke Puan, Emha Hussein Al Phatani: Sangat Memalukan

Next Post

Dikawal Moeldoko Ke Aceh, Jokowi Luncurkan Rekomendasi Penyelesaian HAM Non-Yudisial

Next Post

Dikawal Moeldoko Ke Aceh, Jokowi Luncurkan Rekomendasi Penyelesaian HAM Non-Yudisial

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In