Lalu kenapa semuanya seakan tak berdaya menghadapi rencana aksi 212 saat itu? Ada beberapa hal ketika itu yang saya sampaikan langsung pada adik kandung kesayangan Ahok, namanya Fifi Lety.
Di kantornya tempat kami para kuasa hukum Ahok biasa menggelar rapat, saya sampaikan hal yang menjadi keganjalan hati dan pikiran saya. Waktu itu Fifi tidak terlalu banyak berkomentar soal apa yang saya pikir dan rasakan.
Dalam hati saya berkata, mungkin Ahok dan Fifi jauh lebih tau dari saya keadaan yang sebenarnya, bahwa istana sesungguhnya berada di posisi mana.
Yang jelas, untuk soal lainnya, seperti KH Said Aqil Siradj Ketum PBNU ketika itu, yang tiba-tiba bereaksi keras pada Ahok, saya coba menjelaskan alasannya didepan Fifi, dan kemudian dijawab oleh Ahok dengan baik hingga clear semua masalah.
Waktu demi waktu telah berjalan, tiba-tiba Mahfud MD dicoret dari Bacawapresnya Jokowi, diganti dengan KH Ma’ruf Amin yang langsung dideklarasikan sebagai Cawapresnya Jokowi 2019. Siapa KH. Ma’ruf Amin? Beliau ketika itu adalah Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sebelumnya menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI yang sebelumnya sangat berapi-api mengkriminalisasi Ahok sebagai Penista Agama.
Fifi Lety pun segera kirim WA ke saya dan meminta pendapat saya soal dipilihnya KH. Ma’ruf Amin sebagai Cawapresnya Jokowi 2019. Saya tidak bisa bicara banyak pada Fifi kecuali hanya berkata, beliau ternyata satu almamater dengan saya, sama-sama Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
KELUARGA AHOK JATUHKAN DUKUNGAN KE PRABOWO SECARA TERBUKA
Detik-detik menjelang Pertarungan Pilpres 2019 pun terasa mendetak keras di dada kita, khawatir jika saja Presiden Jokowi kalah berhadap-hadapan dengan Capres Prabowo. Namun ada yang aneh dan sangat mengejutkan kita semua, Fifi Lety saat itu berkunjung ke rumah Capres Prabowo dan memberikan dukungan untuknya secara terbuka.
Saya kembali bertanya-tanya dalam hati, inikah jawaban nyata atas semua misteri Gerakan 212? Apakah keluarga Ahok menganggap Istana berada di balik Gerakan 212?
Ataukah mereka hanya kecewa KH. Ma’ruf Amin Ketua Komisi Fatwa dan kemudian menjadi Ketua Umum MUI saat itu yang sebelumnya mengutuk keras Ahok sebagai Penista Agama, yang dipilih oleh Capres Jokowi sebagai Cawapresnya, hingga keluarga Ahok melalui Fifi menjatuhkan pilihan dukungannya pada Capres Prabowo?
Ataukah mungkin juga, pilihan politik Fifi Lety saat itu bukanlah representasi dari pilihan politik Ahok dan semua keluarganya, melainkan hanya pilihan pribadi Fifi Lety saja? Politik memang bukanlah hal yang serba hitam putih, dimana si A pasti memilih, si A dan lain-lainnya. Akan tetapi politik sesungguhnya merupakan seni kemungkinan, dimana semua hal tidak melulu menjadi sesuatu yang mustahil. (Dego*)






