
CAHAYASIANG.ID, MINAHASA – Kasus Korupsi Dana Hibah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara ke Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), menjadi topik paling heboh di Sulut pada tahun 2025 lalu.
Proses hukum penuh liku ini berakhir pada “pembuian” sejumlah pejabat tinggi Pemprov Sulut, dan orang “terkuat” di GMIM yang merupakan institusi keagamaan terbesar di Sulut. Kendati “buku kisah kasus” memalukan ini sudah berakhir, tapi ada helai-helai tercecer berisi cerita menarik yang kemudian dikisahkan kembali dipublik oleh pihak-pihak yang sempat terkait didalamnya. Diantaranya Drs. Mecky Onibala, M.Si.
Birokrat handal dengan rekam jejak jabatan segudang di Pemprov Sulut dan kabupaten/kota ini, mengaku merasa, nyaris masuk bui, jika tidak ada “kekuatan” lain yang mengawalnya. Hal itu diungkap saat memimpin Ibadah Pelayanan Pria Pantekosta (Pelprip) Komisariat 1 Minahasa di Gereja GPdI Pusat Tondano, Minggu (08/03/2026).
“Saya sudah brapa kali dipanggil oleh atasan berkaitan dengan rencana jabatan Sekretaris Provinsi. Tapi diluar dugaan, saya batal ditunjuk jadi Sekprov. Itu benar-benar sangat menyakitkan. Tapi dikemudian hari saya bersyukur tidak diangkat jadi Sekprov. Sebab, kalau saya yang jadi waktu itu, pasti saya yang masuk bui di kasus dana hibah,” kata Onibala.
Diketahui, Sekprov Sulut SK alias Kepel, “sang penyebab” Onibala gagal Sekprov, menjadi salah satu pejabat yang di bui karena dinyatakan bersalah pada kasus Korupsi Dana hibah sekitar 21,5 miliard tersebut. “Dalam proses persidangan itu, saya 3 kali dipanggil jadi saksi di pengadilan. Puji Tuhan, saya terhindar dari kesalahan karena pertolongan Tuhan Yesus,” ujar.
Onibala yang dua kali dipercaya oleh Olly Dondokambey untuk menjabat kepala Inspektorat. Lanjut ditegaskan oleh Ketua Pelprip Sulut tersebut, memprioritaskan Tuhan mutlak dikedepankan, apapun jabatan dan kesibukan kita. (Joppy Wkr)






