• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Senin, 19 Oktober 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
      • Politik
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
      • Politik
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » Merawat Kerukunan di Tengah Perbedaan: Refleksi Psikologi Multikultural di Kota Manado

Merawat Kerukunan di Tengah Perbedaan: Refleksi Psikologi Multikultural di Kota Manado

19/10/2026
in Manado
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : David P. T. Mondigir, S.Psi.

CAHAYASIANG.ID, MANADO – Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University, Semarang
Di Manado, perbedaan adalah pemandangan sehari-hari. Rumah ibadah berbeda agama berdiri tidak jauh satu sama lain. Di pasar, di kampus, dan di kantor, kita bertemu orang dengan latar agama, etnis, bahasa, dan kebiasaan yang beragam. Slogan Torang Samua Basudara (“kita semua bersaudara”) begitu akrab di telinga sehingga sering terasa seperti sesuatu yang sudah selesai: kerukunan sudah ada, tinggal dinikmati.

Psikologi multikultural mengajak kita melihatnya sedikit berbeda. Kerukunan bukan hadiah dari tempat tinggal kita. Ia adalah sesuatu yang terus dirawat lewat cara kita berpikir, merasa, dan berinteraksi dengan orang lain.
Mengapa Perbedaan Terasa Begitu Dekat???

Salah satu penjelasan awalnya datang dari teori identitas sosial yang dikembangkan Henri Tajfel dan John Turner (1979). Menurut teori ini, sebagian dari konsep diri kita berasal dari kelompok tempat kita merasa menjadi bagian, entah itu suku, agama, komunitas, atau keluarga besar. Identitas kelompok memberi rasa memiliki dan rasa aman.

Namun, identitas yang sama bisa menjadi pintu bagi prasangka. Pikiran manusia cenderung membagi dunia menjadi “kita” dan “mereka”, lalu tanpa sadar menilai kelompok sendiri lebih baik. Ini bukan tanda orang yang jahat, melainkan kecenderungan psikologis yang wajar dan karena itu perlu disadari. Kerukunan yang terawat bukan berarti tidak ada kategori “kita” dan “mereka”. Kerukunan hadir ketika batas antara keduanya cukup lentur untuk dilintasi.

Bertemu, Bukan Sekadar Bersebelahan
Gordon Allport (1954) mengajukan hipotesis kontak: pertemuan antarkelompok dapat mengurangi prasangka, terutama bila ada kesetaraan status, tujuan bersama, kerja sama, dan dukungan dari norma yang berlaku. Tinjauan meta-analisis oleh Pettigrew dan Tropp (2006) atas ratusan studi menunjukkan bahwa kontak antarkelompok umumnya memang berkaitan dengan prasangka yang lebih rendah.

Kata kuncinya adalah kontak yang bermakna. Tinggal berdampingan belum tentu berarti saling mengenal. Dua kelompok bisa hidup bertetangga puluhan tahun tanpa pernah benar-benar bercakap-cakap tentang hal yang penting. Di sinilah tradisi gotong royong seperti mapalus dalam budaya Minahasa menjadi relevan. Bekerja bersama untuk tujuan yang sama menempatkan orang pada posisi setara, dan itu persis kondisi yang membuat kontak lebih bermanfaat. Pada tingkat yang lebih sederhana, kerja bakti, panitia acara, atau kegiatan komunitas lintas latar belakang bisa menjadi “mapalus” zaman sekarang.

Melihat Diri Sendiri Lebih Dulu
Dalam tradisi konseling dan psikologi multikultural, Sue, Arredondo, dan McDavis (1992) merumuskan kompetensi multikultural dalam tiga unsur: kesadaran akan asumsi, nilai, dan bias diri sendiri; pengetahuan tentang pandangan hidup orang lain; dan keterampilan untuk berinteraksi secara tepat. Perumusan ini lahir dari dunia konseling, tetapi kerangkanya terasa relevan bagi siapa saja yang hidup di tengah keberagaman.

Urutannya penting: Kesadaran diri datang lebih dulu.

Sebelum memahami orang lain, kita perlu bertanya, “Nilai apa yang saya anggap wajar, padahal sebenarnya bersumber dari latar belakang saya?” Pamela Hays (2016) membantu lewat kerangka ADDRESSING, yang mengingatkan bahwa identitas kita berlapis: usia, disabilitas, agama, etnis, status sosial-ekonomi, orientasi seksual, warisan adat, asal kebangsaan, dan gender. Di Manado, kita mudah memikirkan keberagaman hanya lewat agama dan suku. Padahal perbedaan usia, kelas ekonomi, atau akses terhadap peluang juga membentuk cara orang mengalami kota ini. Orang bisa berada dalam kelompok mayoritas pada satu dimensi dan kelompok minoritas pada dimensi lain.

Kesadaran ini juga mengajak kita memeriksa privilege dan titik buta. Orang yang selalu berada di kelompok mayoritas cenderung tidak merasa perlu memikirkan perbedaan, sebab dunia sudah dirancang sesuai kebiasaannya. Sebaliknya, kelompok yang lebih kecil sering harus lebih peka dan menyesuaikan diri setiap hari.

Kerendahan Hati
Setelah kesadaran dan pengetahuan, ada satu sikap yang tak kalah penting. Tervalon dan Murray-García (1998) memperkenalkan cultural humility, yaitu kesediaan untuk terus merefleksikan diri sepanjang hidup dan menyadari adanya ketimpangan kuasa dalam hubungan antarkelompok. Berbeda dengan gagasan “kompetensi” yang terkesan bisa dituntaskan, kerendahan hati budaya menegaskan bahwa kita tidak pernah sepenuhnya selesai belajar tentang orang lain.

Sikap ini praktis. Kita bertanya dengan tulus alih-alih berasumsi. Kita mengakui ketika salah memahami. Kita mau mendengarkan pengalaman orang yang berbeda dari kita tanpa buru buru membela diri atau menyamaratakan. Pesan Sam Ratulangi, Si tou timou tumou tou (manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain), sejalan dengan semangat ini: martabat seseorang diakui lewat cara kita memperlakukannya.

Menjaga Agar Kerukunan Tidak Sekadar Slogan

Ada tiga hal sederhana yang bisa kita latihmasing-masing sejalan dengan teori di atas. Perluas kontak yang bermakna. Ikut kegiatan bersama, dari kerja bakti sampai komunitas hobi, bersama orang dari latar belakang yang berbeda, bukan hanya hadir di acara yang sama.

Biasakan refleksi diri. Saat muncul penilaian cepat tentang suatu kelompok, tanyakan dari mana asalnya: pengalaman sendiri, cerita orang lain, atau stereotip yang kita serap.
Bersikap rendah hati. Tanyakan sebelum menyimpulkan, dan dengarkan sebelum menjawab.

Tulisan ini adalah refleksi pribadi, bukan hasil penelitian tentang seluruh warga Manado. Pengalaman setiap orang di kota ini berbeda, dan sebagian orang mungkin mengalami keberagaman dengan cara yang lebih sulit daripada yang tergambar di sini. Itu justru alasan mengapa kita perlu terus mendengarkan.

Penutup

Kerukunan di Manado adalah modal sosial yang berharga, tetapi modal perlu dirawat. Psikologi multikultural mengingatkan bahwa merawatnya dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Mungkin pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya, “Apakah kita sudah rukun?” melainkan juga, “Apa yang sudah kulakukan hari ini untuk merawat kerukunan itu?” (*)

Views: 129
Bagikan ini :
Previous Post

Ajang Sulut Idol 2026 Tercoreng, Wakil Gubernur Langsung Pamit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
      • Politik
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In