
CAHAYASIANG.ID, MINAHASA – Upaya menunjukkan keterbukaan dan transparansi dalam rencana pemotongan bangkai kapal kembali ditegaskan oleh Ko Acun. Sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat dan pemerintah desa, ia memfasilitasi pertemuan resmi yang melibatkan unsur pemerintah, tokoh masyarakat, lembaga sosial, serta warga sekitar.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan LSM GMPM, Hukum Tua (Kumtua) beserta perangkat desa, BPD, Kasi Pemerintahan, Babinkamtibmas, Babinsa, pendeta bersama beberapa majelis gereja, serta masyarakat setempat. Berdasarkan daftar hadir, tercatat 37 warga sekitar menghadiri pertemuan ini untuk mendengar langsung penjelasan terkait rencana pemotongan kapal.

Jumlah kehadiran ini menjadi bukti kuat bahwa Ko Acun menjalankan seluruh proses secara terbuka dan dapat diperiksa oleh berbagai pihak. Partisipasi masyarakat yang begitu besar menunjukkan bahwa pertemuan berjalan transparan, inklusif, dan memberikan ruang bagi publik untuk memahami detail pekerjaan yang akan dilakukan.
Pertemuan Ko Sengga Hanya 6 Orang: Data yang Membantah Pemberitaan Sebelumnya

Dalam beberapa pemberitaan yang beredar sebelumnya, disebutkan seolah pihak lain—yakni Ko Sengga—yang lebih aktif dan terbuka dalam proses ini. Namun, fakta lapangan menunjukkan hal berbeda. Berdasarkan keterangan warga dan dokumen pendukung, pertemuan yang digelar pihak Ko Sengga hanya dihadiri sekitar 6 orang saja, jauh berbeda dengan pertemuan Ko Acun yang dihadiri puluhan warga dan unsur pemerintahan desa.
Dengan hadirnya Kumtua setempat, Pak John selaku penasehat LSM GMPM, perwakilan Ko Acun, serta masyarakat pesisir, pertemuan yang digelar Ko Acun memperlihatkan keseriusan dan komitmen kuat untuk menyelesaikan persoalan ini dengan proses yang transparan.
Menepis Berita Keliru dan Menunjukkan Sikap Terbuka

Data kehadiran serta dokumentasi resmi dari pertemuan ini mematahkan pemberitaan yang tayang beberapa hari lalu. Terbukti bahwa pertemuan Ko Acun dihadiri oleh jauh lebih banyak unsur masyarakat dan pemerintah dibanding pertemuan oleh pihak Ko Sengga.
Warga pun memberikan apresiasi atas langkah yang ditempuh Ko Acun ini. Sikap terbuka yang ditunjukkan dinilai mampu meredam potensi kesalahpahaman di lapangan, serta membangun kepercayaan antara pemilik pekerjaan dan masyarakat pesisir.

Masyarakat berharap proses selanjutnya—baik itu pemotongan kapal maupun koordinasi lainnya—tetap mengikuti mekanisme yang transparan, tertib, dan menghormati ketentuan yang berlaku. Pertemuan ini dinilai sebagai langkah nyata untuk memperlihatkan kepada publik bahwa Ko Acun berkomitmen penuh menyelesaikan persoalan dengan cara yang terbuka dan bertanggung jawab.(*RS)






