(CAHAYA SIANG.ID) MINUT – Kirab Budaya dan Parade Kebaya Minut dalam rangka HUT Minut ke-19 yang digelar Pemkab Minut Rabu, (16/11/2022) yang melakukan start di kompleks Unklab dan finish di Desa Lembean mengundang kecaman sekaligus kritik dari pelaku budaya Minut. Pasalnya kirab yang mengusung nomenklatur “Kirab Budaya dan Parade Kebaya Minut” justru tak berbudaya(baca-miskin budaya) karena terlihat asal jadi, amburadul sekaligus tidak menampilkan karakter budaya Bumi Tonsea.
Hal ini diungkapkan oleh salah satu Pegiat Budaya Minut Jean Waturandang alias Tanta Mien. Menurut Waturandang dirinya sangat kecewa menyaksikan pawai budaya dan parade budaya hasil besutan panitia HUT Minut.
“Terlihat sangat tidak profesional, yang terlihat hanya sekelompok orang yang lengkap dengan kostum budayanya tanpa epkspresi dan pesan budaya, selebihnya ada yang memakai celana jeans dipadu atasan dengan ikat pinggang. Kemudian kebaya yang dikenakan justru berwarna warni, padahal kebaya Minut itu seharusnya putih,” ketus Waturandang saat memberikan tanggapan via sambungan masangger Rabu, (16/11/2022) malam.

Ditambahkannya, “Beginikah pemerintah mendidik generasi muda Minut yang cinta budaya. Sangat amburadul karena persiapan yang seadanya, gagal paham terkait budaya, dan cuma sekedar asal acara sudah terlaksana atau asal bupati senang. Apa sebenarnya yang ditampilkan sebagai kebanggaan budaya Minut yang kaya dan beragam,” tukas wanita yang di era 80-an sangat viral dengan akting sebagai ‘Tanta Mien’ berpasangan dengan ‘Kale’di TV nasional.
Lanjut dikatakannya, di Minut sebenarnya banyak ragam budaya yang bisa ditampilkan seperti Keroncong Mama, Masamper, adat Kaweng Kampung, Dumia Wanua, dan lain sebagainya dimana adat budaya ini bisa mewakili karakter budaya di Minut yang bisa ditampilkan sambil berjalan di dalam hajatan kirab.
“Saya melihat ini kurangnya koordinasi panitia dengan dinas terkait yang lebih memahami budaya Minut, juga tidak melibatkan unsur pelaku atau pegiat budaya di Minut. Padahal Pak Bupati Joune Ganda saat ini menyandang gelar adat Tonaas Wangko Umbanua Minaesa Amian. Apa anugerah ini cuma sekedar ceremonial saja, atau ini pelaksana sengaja membuat malu pak bupati karena tidak bisa menterjemahkan gelar ini,” berang Waturandang seraya menyerukan untuk “Tidak Mempermainkan Budaya Tonsea” karena Budaya Adalah Identitas Bangsa.
“Kirab ini diposting di media sosial, dan disaksikan oleh seluruh dunia dan apa yang ditampilkan menurut saya hanya mempermalukan Minut di dunia internasional. Saya berharap kedepan jika menggelar acara seperti ini libatkan semua pihak terutama unsur budaya agar identitas Bumi Tonsea bisa ditampilkan,” tutup ‘Tanta Mien’.
Terpisah, Arly Dondokambey yang mengikutkan anaknya sebagai peserta kirab, dengan nada yang sama juga memyesalkan pelaksanaan kirab budaya ini. Menurut Alry, kirab budaya gelaran panitia HUT ini miskin pesan budaya. Padahal anak-anak perlu mengenal budaya daerahnya.
“Ini hanya membuat capek peserta yang melibatkan anak-anak. Apa yang dipertunjukan dalam kirab, tidak ada pesan budaya yang melekat kepada anak-anak dan yang menyaksikannya. Lagipula menyusahkan pengguna jalan karena kirab mengakibatkan macet,” ungkap Arly. (Rub)






