CAHAYASIANG.ID, MINUT – RW 006 Kelurahan Sarongsong II Kecamatan Airmadidi memiliki tradisi kuat dalam menggelar Pesta Adat Tulude setiap tahunnya. Hal ini seperti terlihat Selasa, (31/01/2024) di Sirkuit Motocros Kelurahan Sarongsong II.
Tradisi menggelar ini mendapat atensi khusus dari Bupati Minahasa Utara Joune Ganda SE MAP MM M.Si lewat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Minut yang menjadikan pelaksanaan acara ini sebagai salah satu Calendar of Event(CoE) tahunan Disparbud Minut.

Kepala Dinas Pariwisata Minut Femmy Pangkerego M.E. M.Pd diwakili Kepala Bidang Budaya Mersi Sigarlaki SE menyatakan apresiasi yang dalam serta terima kasih kepada penyelenggara Pesta Adat Tulude dimana tradisi dan kekayaan budaya dari negeri Nusa Utara tetap dipelihara dan dilestarikan meskipun pelaku-pelakunya ada di tanah Minahasa.
“Pemerintah tentunya sangat mengapresiasi pelaksanaan Pesta Adat Tulude ini, dengan demikian upaya-upaya pelestarian budaya etnis Nusa Utara sudah terlaksana dengan baik. Pak Bupati Minut Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin Wiliam Lotulung SH MH punya perhatian besar terhadap hajatan-hajatan yang sarat nilai religius yang disampaikan dengan frasa unik Nusa Utara ini. Olehnya, bekerjasama dengan Anggota Dewan Minut Joseph Dengah S.Sos acara ini dapat tersenggara,” tukas Sigarlaki mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Femmy Pangkerego ME M.Pd.

Diketahui, terlaksananya acara ini tidak lepas dari upaya Anggota Dewan Minut Joseph Dengah yang berupaya sehingga kegiatan ini mendapat pendanaan dari Pemkab Minut dan menjadi kalender resmi tahunan.
“Latar belakang sehingga kami mengusulkan RW 006 ini, mengingat 98 persen warga RW ini terdiri dari etnis Sangihe dan Talaud, yang setiap tahun menggelar pesta adat Tulude meskipun melalui swadaya masyarakat. Saya orang Minahasa tapi saya sangat menghargai tradisi etnis Nusa Utara ini. Olehnya saya berupaya membantu agar acara ini dapat terselenggara dengan baik,” ucap Anggota Dewan Minut tiga periode ini.

Dalam psntauan media ini, acara Tulude ini berlangsung cukup meriah dan penuh khidmat(khusuk dan tenang) karena sarat pesan-pesan moral dari para leluhur.
Acara didahului dengan ibadah dan khotbah oleh pemuka agama, dilanjutkan kemudian dengan tarian adat Gunde yang dibawakan sambil bernyanyi diiringi Tagonggong(jenis alat musik tradisional khas Nusa Urara dimainkan oleh para orang tua dan mengandung pesan menyambut petinggi negeri.
Pada prosesi puncak, dilakukan pemotongan kue tamo(kue khas Nusa Utara yang dibuat berbahan beras ketan, santan dan gula aren) oleh pemuka adat yang sebelumnya menyampaikan doa dan pesan-pesan spiritual yang digali dari petuah-petuah leluhur, disampaikan dengan bahasa Nusa Utara. Warga RW 006 dan para undangan kemudian larut dalam tarian sukacita seusai acara.Hadir juga Calon Legislatif DPRD Provinsi Sulut Andhika Yahya Santiago Baramuli LLB(Hons) MSc yang juga berdarah Nusa Utara.
Dirinya mengaku bangga, tradisi leluhurnya dapat dipertahankan di tanah Minahasa.
“Ini perlu dilestarikan, karena merupakan tradisi yang sangat baik yang penuh dengan wejangan-wejangan para tua-tua yang masih relevan sampai saat ini,” kunci Baramuli. (Rubby Worek)






