CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Menko Manives Luhut Binsar Pandjaitan memperoleh dukungan untuk mengambil alih posisi Ketua Umum Golkar dari tangan Airlangga Hartarto.

Sebagaimana diketahui, sesuai ketentuan di internal Partai Golkar, calon ketua umum biasanya harus memperoleh dukungan dari organisasi pendiri yakni Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Kosgoro 1957, dan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR).
Dukungan kepada Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Luhut Binsar Pandjaitan, muncul dari Wakil Ketua Umum (Waketum) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) SOKSI Lawrence TP Siburian yang secara gamblang mengakui sudah melakukan penilaian ke sejumlah tokoh-tokoh potensial pengganti Airlangga Hartarto.
“Kita sudah menganalisis satu persatu, ya seperti Pak Luhut, Pak Bahlil (Menteri Investasi), kemudian itu Pak Agus Gumiwang (Menteri Perindustrian), kemudian itu Pak Bambang Soesatyo (Ketua MPR), dan lain-lain. Jadi kita sudah bahas dan kita sudah pada satu kesimpulan bahwa mereka itu memang punya kapasitas,” kata Lawrence TP Siburian, menurut keterangannya, Selasa (25/7/23).
PILIHAN JATUH KE TANGAN LUHUT BINSAR PANDJAITAN
Ia melanjutkan, di tengah situasi jelang Pemilu 2024 maka SOKSI melihat ketua umum baru Golkar harus punya kemampuan kepemimpinan, manajemen, dan jaringan yang luas.
“Pilihan pun jatuh ke Luhut,” Jawab Lawrence TP Siburian dengan terang-benderang.
Dia menerangkan, analisis mereka mengenai kapasitas menjadi Ketua Umum Golkar hingga pada menjatuhkan pilihan kepada Luhut Binsar Pandjaitan.
“Nah dari analisis kita yang punya kapasitas untuk menjadi ketua umum tersebut kita jatuhkan pilihan kita pada Pak Luhut, karena situasi yang sudah sangat singkat tentu kami punya kriteria untuk menilai itu,” ungkap Lawarence TP Siburian.
ALASAN DORONGAN MUNASLUB, ELEKTABILITAS PARTAI MENURUN
Eks Ketua Mahkamah Partai Golkar tersebut menjabarkan, Pihaknya mendorong Partai Golkar menggelar musyawarah nasional luar biasa (munaslab) untuk menggantikan Airlangga.
Menurut Dirinya, Banyak alasan Airlangga gagal memimpin Golkar.
“Salah satunya, elektabilitas partai yang menurun,” ucap Lawrence TP Siburian. (Dego*)





