• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Friday, 1 May 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » ‎“Jejak Seorang Jenderal: Dari Anak Kampung Hingga Menjadi Polisi”

‎“Jejak Seorang Jenderal: Dari Anak Kampung Hingga Menjadi Polisi”

10/12/2025
in Nasional
0
Share on FacebookShare on Twitter

CAHAYASIANG.ID, ‎Jakarta — Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Sekjend Persatuan Wartawan Reaksi Cepat ( PWTC) Hans Montolalu, Selasa 9/11/25 di Markas Besar Lemdikpol.
‎
‎Komjen Pol Prof. Dr. Chrysnanda Dwilaksana, M.Si, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Kalemdikpol), membuka perjalanan panjang hidupnya—sebuah kisah tentang tekad, keberanian, dan dedikasi yang membentuk dirinya hingga berada pada titik tertinggi dalam karier kepolisian.
‎
‎Dikenal sebagai figur polisi pemikir dan pembaharu, Chrysnanda tidak pernah melupakan akar perjalanannya. Dalam perbincangan hangat tersebut, ia memulai cerita dari masa kecilnya.
‎
‎Dari Kehidupan Sederhana Menuju Cita-Cita Besar
‎
‎“Saya lahir dari keluarga sederhana. Tidak pernah terbayang akan menjadi seorang jenderal. Yang saya tahu hanya satu: hidup harus bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya kepada Hans.
‎
‎Masa kecilnya dihabiskan dengan keterbatasan yang justru menempa mental dan karakternya. Baginya, disiplin bukan hanya dipelajari—tetapi dibangun dari kebiasaan hidup sehari-hari.
‎
‎“Ayah dan ibu selalu mengajarkan bahwa kejujuran adalah kemewahan yang tidak boleh hilang, meski kamu tak punya apa-apa. Itu modal saya sejak awal,” kenangnya.
‎
‎Awal Masuk Polisi: Antara Mimpi dan Tantangan
‎
‎Chrysnanda bercerita bahwa keinginannya menjadi polisi muncul bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan kegelisahan terhadap ketidakadilan yang ia lihat saat remaja.
‎
‎“Saya melihat banyak orang kecil diperlakukan tidak adil. Saat itu saya berkata pada diri sendiri: kalau bukan saya yang membela mereka, siapa lagi?”
‎Motivasi itu mendorongnya mendaftar ke Akademi Kepolisian.
‎
‎Namun jalan tidak mudah. Ia harus bersaing dengan ribuan calon taruna lain, melewati seleksi ketat serta tekanan mental dan fisik. “Saat itu saya tidak hanya bertarung untuk sebuah karier. Saya bertarung untuk masa depan keluarga saya,” ucapnya.
‎
‎Mengabdi, Mengajar, dan Berinovasi
‎
‎Karir Chrysnanda terus menanjak. Ia dikenal sebagai sosok yang memadukan kedisiplinan kepolisian dengan pemikiran akademis dan humanis.
‎Saat bertugas, ia tak sekadar bekerja; ia selalu membawa misi perubahan.
‎
‎Sebagai Kalemdikpol, ia menegaskan bahwa pendidikan adalah pondasi reformasi Polri.
‎
‎“Saya ingin melahirkan polisi-polisi berkarakter. Polisi yang tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga bertanggung jawab, jujur, dan mampu melindungi rakyat dengan hati,” tegasnya.
‎
‎Chrysnanda juga dikenal gencar mengkampanyekan nilai-nilai moral kepolisian, salah satunya konsep “Police with Integrity” yang sudah menjadi ciri khas pemikirannya.
‎
‎Pesan untuk Generasi Muda
‎
‎Menutup wawancara, Hans Montolalu menanyakan apa pesan seorang jenderal kepada anak-anak muda Indonesia.
‎
‎Dengan nada tegas namun penuh keteduhan, Chrysnanda menjawab:
‎
‎“Jangan takut bermimpi. Jangan takut memulai dari nol. Yang penting, lakukan semua dengan hati, jangan pernah mengkhianati integritas, dan berjuanglah untuk kebaikan. Itu yang akan membawamu jauh.”
‎
‎Penutup
‎
‎Wawancara eksklusif ini bukan hanya membuka perjalanan hidup seorang petinggi kepolisian, tetapi juga memperlihatkan bagaimana integritas, pendidikan, dan komitmen terhadap kemanusiaan dapat membawa seseorang menuju puncak.
‎Komjen Pol Prof. Dr. Chrysnanda Dwilaksana bukan sekadar seorang jenderal—ia adalah representasi bahwa kepemimpinan sejati lahir dari karakter dan perjuangan panjang.
‎
‎Hans Montolalu

Post Views: 450
Bagikan ini :
Previous Post

Polimdo Gelar Talk Show Bersama Kementerian Diktisaintek, Soroti Transformasi dan Prestasi Menuju Generasi Emas 2045

Next Post

Fakta Persidangan PTUN Manado Terkait SHGB No. 3320/Desa Sea

Next Post

Fakta Persidangan PTUN Manado Terkait SHGB No. 3320/Desa Sea

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In