CAHAYASIANG.ID, SANGIHE – Sekitar seratusan orang yang mengaku dari Gabungan Kelompok Masyarakat Penambang berdemo didepan Polres, Rumah Jabatan (Rumjab) dan berlanjut ke DPRD Kepulauan Sangihe pada Kamis, (14/03/24).

Demo sekelompok Masyarakat ini dipicu ditutupnya Tambang Bowone Entana Mahamu tempat mereka bekerja. Menurut Irfan Mamadoa Ogelang, bahwa pada Rabu tanggal 13 maret 2024 kemarin mereka berhamburan lari karena ada Anggota Kepolisian diduga Anggota dari Polda yang datang menertibkan kegiatan penambangan disana.
“Pada hari kemarin kami berlarian dan terjadi kejar – kejaran dengan Anggota Polisi yang katanya dari Kepolisian Daerah (Polda) Sulut, untung saja diantara kami penambang tidak ada yang terperosok kedalam lobang galian tambang,” ujar Ogelang.

Dia menambahkan bahwa mereka (polisi) membawa beberapa karung Karbon yang berisi Emas yang sudah siap di olah.
“Ada beberapa karung karbon yang mereka bawah termasuk milik saya yang belum sempat diolah,” kata ade Irfan sapaan akrabnya.

Saat digelar pertemuan di gedung DPRD Sangihe Ade Irfan meminta kebijakan kepada Pemerintah, DPRD dan pihak Kepolisian untuk mereka bisa bekerja lagi.
“Kami meminta tolong kepada Pemerintah Kabupaten Sangihe, DPRD dan Pihak Kepolisian agar memberi kebijakan bagi kami para penambang, sebab kami yang hadir saat ini butuh keberlangsungan hidup, kami punya anak sekolah dan kuliah, kasian mereka kalau kami sudah dihentikan bekerja,” ucap ogelang dengan nada sendu.
Sementara itu, Ketika dikonfirmasi oleh wartawan, Kapolres Sangihe, AKBP Dhana Ananda Syaputra, menegaskan bahwa polres Sangihe tetap pada prinsip bahwa tambang ilegal tidak boleh dioperasikan.

“Polres Sangihe akan terus menegakkan hukum dan menuntut pengosongan tambang ilegal sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” tegasnya. (*Anto)






