CAHAYASIANG.ID, Minut – Kegiatan talkshow, conference dan workshop, menjadi rangkaian kegiatan sehari Green Press Community (GPC) 2026, yang dilaksanakan The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) di Hotel Sutan Raja Minahasa Utara (Minut) pada Sabtu (7/2/2026) kemarin.
Adapun salah satu workshop yang diikuti para jurnalis se-Indonesia dan lokal, mengusung tema “Saatnya Memperkuat Narasi Green Building”, menghadirkan dua narasumber dari Global Buildings Performance Network (GBPN), yakni, Dr. Jatmika Adi Suryabrata serta Farida Lasida Adji.
Sebagai narasumber pertama, Farida memaparkan materi berjudul “Menuju Bangunan Sehat, Terjangkau dan Rendah Karbon di Indonesia”, menyebut bahwa tempat kita hidup terutama rumah tinggal dan kantor menjadi penyumbang terbesar emisi CO2 (karbon dioksida), terutama dalam penggunaan energi listrik.

Farida menyebut, sektor bangunan di Indonesia menyumbang 60% dari total konsumsi listrik nasional dan sekitar sepertiga emisi gas rumah kaca dari sektor energi. Konsumsi listrik ini terus meningkat seiring dengan urbanisasi dan peningkatan standar hidup,menuntut efisiensi energi bangunan untuk mencapai target net zero emission.
“Bangunan berkelanjutan membawa manfaat bagi Indonesia, terutama berpotensi mengurangi 37 juta ton CO2 hingga 2030 mendatang,” ucap Country Managing Director GBPN ini.
GBPN saat ini sudah bermitra dengan pemerintah baik di tingkat nasional maupun daerah, terutama dalam pembentukan regulasi, seperti Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Perusahaan Listrik Negara (PLN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta pemerintah Kota Tanggerang.
“Bagi sisi pengembang serta pemilik bangunan, efisiensi bangunan dapat membawa keuntungan dalam operasional serta nilai propertinya,” ucap Farida, sembari menekankan bahwa desain bangunan yang efisien dan ramah lingkungan, bisa mengurangi emisi karbon dan pemanasan global, serta berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Narasi Green Building ini masih menghadapi berbagai tantangan dan kendala, diantaranya masih ada kekhawatiran dari pihak pemerintah juga pembiayaan serta kemanfaatan. Selain itu, keterbatasan dan ketersediaan teknologi dan ketersediaan tenaga ahli yang benar-benar paham soal unsur-unsur pembangunan berkelanjutan juga masih menjadi kendala.
Sementara Jatmika yang adalah Senior Technical Advisor GBPN mengungkap, publikasi yang dilakukan harus lebih intens karena Green Building sudah terbukti bermanfaat. Ia pun meminta kalangan media mampu membantu menginformasikan soal green building ini kepada masyarakat.
Dia menuturkan bahwa dari sisi arsitek dan konsultan bangunan masih banyak yang belum mau keluar dari sona nyaman. “Mereka masih belum mau menerapkan sistem penghematan dalam melakukan desain bangunan berkonsep green building. Salah satu persoalan karenea tidak semua arsitek memiliki kemampuan untuk merancang green building,” beber Jatmika.
Konsep bangunan yang masih diterapkan hingga kini dianggap Jatmika boros. Padahal menurutnya, banyak yang bisa dihemat dengan desain green building.
Jatmika juga mengungkap sejumlah tantangan penereparan green building yakni, fragmentasi dalam perencanaan pembanguan, terbatasnya pemahaman, kapasitas dan teknologi, misconception tentang biaya bangunan berkelannjutan, serta terbatasnya akses terhadap pembiayaan hijau. “Padahal, paling murah untuk mengurangi CO2 adalah melalui pembangunan gedung,” tandas Jatmika
Perlu diketahui, prinsip pembangunan Green Building ini meliputi efisiensi energi, efisiensi air, penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan limbah, serta kualitas udara dalam ruangan. (ak)





