Ia menambahkan, kasus tersebut mencerminkan bahwa cara penyelenggaraan Pemilu di Indonesia terlalu beresiko.
“KPPS bukan hanya menghitung perolehan partai politik, tapi juga menghitung perolehan masing-masing caleg. Ia pun bersyukur bahwa Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan penutupan perhitungan suara dapat disudahi pada pukul 12.00 malam dari yang sebelumnya pukul 01.00. Jadi, sedapat mungkin sistem yang kita pilih itu tidak beresiko bagi penyelenggara, walaupun penyelenggara juga disumpah tetapi bukan berarti juga setiap kegiatan itu melahirkan resiko, apalagi resiko kematian,” timpalnya.
Sambung, Ferry Daud Liando, pertimbangan lainnya yakni efisiensi. Menurut dirinya, penyelenggaraan pemilu jangan terlalu mahal dengan berkaca pada pengalaman masa lalu saat Pilkada digelar dengan sistem dua putaran. Resikonya, terlalu banyak anggaran yang digunakan.
“Nggak mungkin, kita harus memilih sistem justru terlalu royal. Akibatnya, terlalu banyak yang kita gunakan untuk membiayai, misalnya, pilkada. Pilkadanya itu, juga kemudian anggaran publik terpotong. Ini juga mengkhawatirkan kalau sistem yang kita pilih terlalu boros,” pesan dia.
3. KEPENTINGAN SISTEM PEMILU
Akademisi Unsrat itu menggarisbawahi, juga merupakan kepentingan warga negara termasuk kepentingan negara.
Kemudian Ia menilai, kepentingan warga negara dalam Pemilu tentu karena hal itu merupakan sarana kedaulatan rakyat. Namun, hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana sistem itu memastikan warga negara dapat memilih dengan mudah dan tidak sulit.
Ferry Daud Liando memberi contoh, yakni beberapa kali penyelenggara Pemilu melakukan PSU karena banyaknya surat suara yang rusak.
Dia mengatakan, hal itu karena surat suara yang terlampau besar, seperti koran dan menyulitkan masyarakat untuk memilih.
“Jangan sampai surat suara itu, sulit dan menyebabkan hak masyarakat itu hilang, Karena surat suara itu, tidak dihitung karena rusak,” pungkas Ferry Daud Liando.
4. KEPENTINGAN PARTAI POLITIK DALAM SISTEM PEMILU
Menurutnya, partai politik mesti diberi ruang dalam Pemilu...






