Macron mengatakan rencana ini bakal terealisasi pada 1 Januari 2019.
Pada saat itu, orang-orang berdemo dengan memakai rompi berwarna kuning sebagai wujud protes rencana Emmanuel Macron tersebut.
Menurut warga Prancis, rencana Macron tersebut semakin menekan anggaran rumah tangga bagi kelas menengah dan bawah.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Prancis, Bruno Le Maire mengatakan aksi massa selama hampir tiga bulan ini memukul ekonomi di Prancis secara keseluruhan, dikutip dari Aljazeera.
“Beberapa keuntungan di beberapa sektor ekonomi anjlok antara 15-50%,” katanya tanpa menjelaskan.
“Dampak ini akan terus terjadi,” sambung Le Maire.
Tak sampai di situ, perusakan oleh massa pun turut mengakibatkan 75 SPBU di Paris mengalami keterlambatan penyaluran BBM lantaran diblokade oleh demonstran.
Akibatnya, salah satu perusahaan minyak Prancis, Total mengaku mengalami kerugian operasional mencapai 453 juta USD.
Prancis Tunda 6 Bulan Naikan Pajak BBM
Selanjutnya dijelaskan, Demonstrasi besar-besaran ini menyebabkan Pemerintah Prancis menunda untuk menaikan pajak BBM pada 1 Januari 2019 dalam jangka waktu enam bulan.
Pemerintah Prancis juga melakukan penundaan untuk menaikan harga LPG dan listrik selama tiga bulan.
Disaat itu, Tingkat kepuasan pemerintahan Macron pun mencapai titik terendah, akibat rencana kebijakannya untuk menaikan pajak BBM tersebut, menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Paris Match dan Sud Radio.
“Tingkat kepuasan terhadap Macron turun menjadi 23 persen dalam jajak pendapat yang dilakukan pekan lalu, turun enam poin dari bulan sebelumnya,” demikian temuan lembaga tersebut. (DYW)
#Gibran #DemoRompiKuning #Prancis






