CAHAYASIANG.ID // Jakarta – Dalam beberapa waktu lalu, Sekjen DPP PROJO Handoko pada diskusi bersama Pengamat Politik dan pengurus Partai Gerindra di salah satu stasiun tv nasional mengungkap sejumlah temuan mereka, mengenai potret pemimpin nasional dari sejumlah hasil yang mereka temukan pada Musyawarah Rakyat (Musra) pada berbagai daerah gelaran.
Handoko menjawab pertanyaan mengenai penerimaan dikalangan Relawan Jokowi terkait sejumlah signal yang diduga lempar Jokowi untuk Pilpres 14 Februari 2024 mendatang.
“Saya menggunakan Parameter hasil Musra ya, karena itu mekanisme yang kami lakukan untuk menjaring suara dengan metode tersendiri yang beda, dengan survei ya. Ternyata memang, ada tiga nama yang saya sebutkan tadi,” jawab Sekjen PROJO tersebut.
Handoko mengatakan, Di Tear satu ada tiga nama, ada namanya Pak Prabowo, ada namanya Pak Ganjar Pranowo, ada namanya Pak Airlangga Hartarto. Tiga nama ini, memang merajai kontestasi Musra yang kurang lebih 23 Provinsi yang kita gelar.
“Bahkan beberapa kali mengejutkan, misalnya di Jawa Tengah mungkin pertama kita berpikir, sudahlah ini bakal disapu bersih sama Ganjar ini. Ternyata Pak Prabowo selisih sedikit sekali, dengan Pak Ganjar, memang Pak Ganjar diurutan Pertama, Pak Prabowo nomor dua tapi tipis sekali. Misalnya seperti itu, ini kejutan-kejutan,” ungkapnya.
Kemudian, Handoko menjelaskan, di Tear kedua itu lebih mungkin bicara wapres ya, ada tiga nama yang sering mencuat, ada nama Pak Moeldoko, ada nama Pak Mahfud MD, ada nama Pak Sandiaga Uno. Artinya, enam nama ini cukup diterima dikalangan relawan Pak Jokowi.
“Bahkan, resistensi nama Pak Prabowo relatif sudah tidak ada dan tidak seperti dulu lagi, sehingga nama-nama ini beredar cukup kencang di Musra,” jelasnya.
Handoko menambahkan, Nah ini yang terkait juga, nama-nama ini bersama Pak Jokowi. Contohnya, jika bertemu Pak Prabowo mungkin berikutnya jatah bapak, dibeberapa kesempatan orang-orang menafsir rambut putih itu Pak Ganjar, Diacaranya Golkar bicara namanya Pak Airlangga yang punya pengalaman masalah perekonomian segala macam, itu juga ditangkap oleh kawan-kawan relawan.
“Nah memang kami hanya bisa sampai disitu, mungkin diujung kami tidak tahu nama-nama ini akan berubah atau tidak, nama-nama yang tinggi diposisi Musra akan kami serahkan ke Pak Jokowi,” tambahnya.
Selanjutnya, Handoko berpandangan, Berikutnya, permainannya persoalan tadi konstalasi Partai, yang itu tentu saya tidak bisa komentar.
“Kami bukan partai politik, saya juga bukan pengamat jadi itu terserah bagaimana partai-partai melakukan koalisi dan blocking nantinya seperti apa,” pandangnya.
Sambung Handoko, Tapi mungkin tidak jauh-jauh dari nama-nama yang kami saring. Begini kalau saya, menurutnya bukan soal selera tapi soal ‘Siapa Yang Paling Bisa Mengamankan Legacy Pak Pak Jokowi di Periode kedepan’.
“Yang mungkin secara politik dia punya dukungan paling oke, dan masuk dalam platform konstalasi tadi, bisa dimasukan kesitu,” sambungya.
Handoko mencontohkan, Senangnya Si A misalnya, kemudian bisa melanjutkan Legacy pembangunan yang sudah berjalan. Tetapi kemudian tidak bisa masuk dalam peta konstalasi partai politik, kan itu sama juga bohong, itu maksud saya.
“Jadi prioritas pertama, siapa yang diyakini oleh Presiden Jokowi, yang akan bisa melanjutkan keberhasilan-keberhasilan selama dua periode ini, yang sudah sangat dirasakan oleh rakyat Indonesia,” contohnya.
Kemudian Handoko memberikan analoginya, Kepentingannya bukan pada Pak Jokowi nya, tetapi bangsa ini kemudian pembangunan segala macam berlanjut pada track yang benar, dasar-dasar dari Pak Jokowi ini akan berlanjut.
“Sebenarnya itu kepentingannya, karena yang punya tiket ialah partai politik. Sebagai Presiden di Republik ini, yang sampai saat ini Approval Rattingnya masih sangat tinggi itukan fenomenal Pak Jokowi dan Popularitas, juga masih tinggi tentu menjadi pertimbangan pembangunan kedepan berlanjut dengan baik,” tutur Sekjen PROJO sekaligus Pengurus Pusat HKTI tersebut. (Deon)





