Di tempat itu, orang lalu lalang, keluar masuk, berurusan dengan ID Card, undangan, batik seragam, buku dan beberapa keperluan lain. Sekitar 1.500 lebih peserta HPN dari berbagai daerah, itulah yang mereka urus! Belum lagi undangan untuk para pejabat dari pusat dan daerah.
Tak jauh dari ruangan itu, ada ruang untuk beberapa sesi seminar. Suatu petang, saya berkunjung menyaksikan salah satu seminar. Ruangan penuh, semua kursi nyaris berisi.
Ini berbanding terbalik denga napa yang disebutkan ketua Panpel Raja Parlindungan Pane sebelumnya. Dalam grup panitia, Raja mengatakan, “Ayo bertebar kita hadiri semua seminar. Kita bekerja, nanti baru jalan-jalan.” Raja mengutarakan itu, karena dalam beberapa gambar yang masuk dalam WAG grup, kelihatan suasana kosong.
Tapi dalam keramaian yang saya lihat di salah satu seminar, banyak orang berbincang di belakang, sembari ngopi. Suara mereka berisik sementara seminar sedang berlangsung.
“Maaf bapak-bapak. Kalau mau ngobrol silahkan keluar. Kasihan orang yang bicara di depan, kalua kita berisik,” kata Chelsia Chan, yang mengurusi bidang acara. Kelompok orang berisik
itu pun diam.
Di sebelah Kahayan Room itu pula pada Minggu petang, para panitia berkumpul atas permintaan Raja. Banyak yang datang masih berbusana batik motif Kaharingan, karena belum sempat diganti usai acara puncak HPN pagi hari yang berlangsung meriah dan suksek, dibuka resmi oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
“Ini bukan evaluasi. Saya hanya mau berterima kasih kepada bapak ibu semua. Juga mau curhat,” kata Raja, salah satu kunci sukses HPN 2025, tentu saja bersama Ketum PWI Hendry Ch Bangun dan Sekjen PWI Iqbal Irsyad.
Raja bercerita tentang suka duka yang dialaminya bersama rekan lain, selama menjalani pra-event HPN, sampai detik-detik akhir menjelang berlangsungnya acara puncak HPN Kalsel.
Cerita Raja dan Iqbal saat itu, begitu memukau sekaligus mengesankan, dan biarlah kisah semacam “untold story” ini menjadi halaman-halaman tersendiri yang terjilid dalam hati.
Tiga dari beberapa hotel yang digunakan panitia pada HPN 2024 Kalsel, yang juga digunakan pada peringatan Porwanas Agustus 2024, menuai cerita sendiri, setidaknya menjadi saksi tentang hiruk pikuk sekaligus tentang suksesnya penyelenggaraan HPN Kalsel 2025. (*)






