
CAHAYASIANG.ID, Sangihe – Perjalanan hidup seseorang sering kali menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah harapan. Kisah itu tergambar dalam sosok seorang putri Kampung Talengen yang kini mendaftarkan diri sebagai Calon Kapitalaung, setelah melewati berbagai tantangan hidup yang tidak mudah.
Terlahir sebagai anak dengan spektrum autisme, ia harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang ayah tercinta meninggal dunia. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas saat itu membuatnya tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagaimana teman-teman seusianya.
Namun, keadaan tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk terus berjuang. Dengan tekad yang kuat dan keyakinan kepada Tuhan, ia memilih menempuh jalan hidup yang berbeda. Dunia pelayaran menjadi pintu yang membawanya menuju berbagai pengalaman dan pencapaian.
Sejak tahun 2003, ia mengabdikan diri sebagai pelaut. Selama kurang lebih 18 tahun berlayar, hingga tahun 2021, ia menjelajahi berbagai perairan dan menempa diri melalui kerasnya kehidupan di laut.
Pengalaman tersebut tidak hanya membentuk karakter dan kedisiplinannya, tetapi juga memperluas wawasan serta kemampuan kepemimpinannya.
Setelah memutuskan berhenti berlayar, ia tidak meninggalkan dunia maritim yang telah membesarkan dirinya. Ia kemudian dipercaya menjadi instruktur nautika di salah satu sekolah pelayaran, membagikan ilmu dan pengalaman kepada generasi muda yang ingin meniti karier di bidang pelayaran.
Semangat pengabdian yang dimilikinya tidak berhenti di situ. Pada tahun 2024, ia ikut berpartisipasi dalam Pemilihan Legislatif di Kota Manado. Meskipun belum berhasil meraih kursi yang diharapkan, pengalaman tersebut semakin memperkuat keinginannya untuk terlibat dalam pelayanan kepada masyarakat.
Karier profesionalnya pun terus berkembang. Pada tahun 2025, ia mendapatkan kepercayaan lebih besar dengan menduduki jabatan sebagai Kepala Cabang pada sebuah perusahaan pelayaran yang berkantor pusat di Surabaya, dengan wilayah kerja cabang di Biak, Papua.
Di tengah pencapaian karier yang terus meningkat, panggilan untuk melayani masyarakat kampung halaman justru semakin kuat. Baginya, keberhasilan bukan hanya soal jabatan dan karier, tetapi bagaimana dirinya dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
Atas dasar itulah, ia memutuskan untuk kembali dan mendaftarkan diri sebagai Calon Kapitalaung Kampung Talengen. Keputusan tersebut lahir dari kerinduan untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan kampung, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menghadirkan kepemimpinan yang melayani.
“Semua yang saya capai hari ini adalah karena anugerah Tuhan. Saya percaya setiap pengalaman hidup memiliki tujuan. Jika Tuhan mengizinkan, saya ingin mengabdikan pengalaman dan kemampuan yang saya miliki untuk masyarakat Kampung Talengen,” ungkapnya kepada Anto Jurnalis media ini pada Senin (15/6/2026).
Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih keberhasilan. Dari seorang anak autis yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena kondisi ekonomi, menjadi pelaut, pendidik, pemimpin perusahaan, hingga kini terpanggil untuk melayani kampung halamannya.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketekunan, kerja keras, dan iman dapat membuka jalan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kini, langkah pengabdiannya memasuki babak baru, bersama harapan masyarakat yang mendambakan kemajuan bagi Kampung Talengen. (*Anto)






