• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Friday, 15 May 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » Belajar Berbasis ‘Higher Order Thinking Skill’ Menjadi Kebutuhan Mahasiswa Dewasa Ini

Belajar Berbasis ‘Higher Order Thinking Skill’ Menjadi Kebutuhan Mahasiswa Dewasa Ini

Oleh: Dr. Dra. Devy Stany Walukow M.Hum. M.Si.*

18/02/2025
in Iptek, Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter
Dr. Dra. Devy Stany Walukow M.Hum. M.Si.

PENGGUNAAN kecerdasan buatan atau Artficial Intelligence (AI) yang memudahkan mahasiswa mengerjakan tugas telah menjadi kebutuhan dalam dunia pendidikan dewasa ini. Kecanggihan AI yang mampu memberikan jawaban terhadap semua persoalan telah “menghipnotis” mahasiswa untuk menggunakannya, karena bersifat sangat cepat dan mudah digunakan. Apalagi kurangnya kesadaran mahasiswa dalam menggunakan AI dimana mengerjakan tugas tanpa proses berpikir yang serius, menjadi masalah yang cukup serius perlu ditangani dewasa ini.

Keberadaan AI mulai membawa kebiasaan berpikir mahasiswa yang sebelumnya bersifat dinamis menjadi statis yakni, mahasiswa menjadi apatis, tidak memberikan jawaban, tidak respon, dan masa bodoh. Dengan demikian dalam proses belajar tidak menutup kemungkinan terjadinya pendangkalan berpikir.

Pola ini berakibat pada ketidak-mampuan mahasiswa dalam menghadapi sebuah permasalahan, dan pada akhirnya mencari jalan keluar yang tanpa arah, bahkan mengambil dengan mudah langkah yang ekstrim seperti “suicide”.

Fenomena ketidak-mauan berpikir ini perlu menjadi perhatian dosen di setiap kelas ketika mengajar. Meskipun menggunakan bantuan sistem jaringan dan teknologi, dimana mahasiswa diajak berselancar di ruang virtual, tetapi dosen harus dapat menciptakan dan membangun mahasiswa untuk tetap berpikir dan berpikir yang lebih berkualitas.

Mahasiswa harus diajak berpikir dan menganalisa apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka inginkan. Dosen harus mendorong mahasiswa untuk mengasah kemampuan mulai dari menganalisis, dilanjutkan dengan mengevaluasi, dan terakhir adalah mencipta sebagai tahap dalam proses pembelajaran yang berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTs).

Berpikir tingkat tinggi memerlukan usaha dan upaya pendidik untuk membentuk tahap-tahap tertentu sehingga mahasiswa sampai pada tahap berpikir tingkat tinggi. Berpikir tingkat tinggi dapat diciptakan dengan catatan pendidik juga harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan keterampilan untuk mengaplikasikan berpikir tingkat tinggi.

Dalam mengaplikasikan berpikir tingkat tinggi, maka komunikasi merupakan salah satu kekuatan untuk membentuk berpikir tingkat tinggi. Komunikasi yang dimaksud adalah menggunakan informasi yang jelas, tepat, terarah, dan berjenjang.

Selain itu, dosen juga harus memberikan sebuah masalah untuk didiskusikan kemudian dosen memberikan feedback dan harus dibahas kembali menjadi sebuah pertanyaan yang baru. Pertanyaan yang baru dilemparkan lagi kepada mahasiswa dan langsung dijawab, kemudian jawaban tersebut ditanyakan lagi kepada mahasiswa yang lain, demikian seterusnya hingga mendapat sebuah jawaban dan atau beberapa jawaban yang berbeda.

Dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memikirkan jawaban yang diperoleh termasuk jawaban yang berbeda tersebut. Biarkan mahasiswa mengkritisi, menganalisis dan memberikan argumen. Ketika hal ini dilakukan terus-menerus akan menciptakan kebiasaan berpikir mahasiswa yang lebih baik dan berkualitas. Sehingga pada akhirnya mahasiswa memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Mahasiswa akan dapat berpikir seperti berpikir kritis, logis, metakognitif, kreatif, reflektif, aplikatif, bijaksana, kompleks, mendalam, logis, nalar, dan berpikir secara menyeluruh sebagai ciri-ciri dari berpikir tingkat tinggi (HOTs).

Melalui HOTs mahasiswa mampu berpikir kritis, mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan memberikan solusi dilanjutkan dengan kemampuan menerapkannya. Ajakan berpikir tingkat tinggi (HOTs) dalam proses pembelajaran dari dosen, tidak hanya menyebabkan kualitas berpikir sebagai mahasiswa mengalami peningkatan, tetapi juga menyebabkan sikap belajar yang apatis dari mahasiswa berubah menjadi aktif seperti memberikan feedback atas pertanyaan atau masalah yang diajukan dosen dengan cara ”berlomba” dalam berargumen.

Suasana belajar yang demikian akan sangat dinikmati mahasiswa dan akan merasakan perubahan dalam berpikir, berpendapat, dan beraktualisasi.

Mendorong mahasiswa berpikir tingkat tinggi (HOTs) dapat menghilangkan kekhawatiran terhadap dampak dari penggunaan sistem jaringan dan teknologi yang berakibat pada menurunnya kualitas berpikir atau aspek kognitif. Kekhawatiran terhadap ”generasi alpha” sebagai generasi yang sangat ditentukan dan tergantung pada teknologi cerdas secara digital serta cenderung tidak mau berpikir dapat ditangani secara baik.

Apalagi, kebutuhan menjadi seorang yang cerdas dan berbudi pekerti merupakan bentuk tanggung-jawab moral bersifat personal setiap mahasiswa. Setiap orang memiliki keinginan untuk menjadi sosok yang lebih baik dimata orang lain, termasuk menjadi seorang mahasiswa yang cerdas berpikir, berkarakter, dan berkualitas.(*Penulis adalah Dosen Universitas Pelita Harapan)
devy.waluko@uph.edu
devistany@gmail.com

Post Views: 2,007
Bagikan ini :
Previous Post

Dipanggil Ini Tipidter Polda Sulut, Begini Penjelasan Dirut Perumda Pasar Manado

Next Post

Kakanwil Kemenkum Sulut Buka Pelatihan Paralegal

Next Post

Kakanwil Kemenkum Sulut Buka Pelatihan Paralegal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In