CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Aktivis 1996 Ragil Nugroho memberikan tanggapan untuk Adian Napitupulu, menurutnya Jokowi berbeda dengan Joko Tingkir, bila Joko Tingkir masih keturunan darah biru sehingga wajar menjadi Sultan Pajang, Jokowi bisa dikatakan keturunan Lembu Peteng.

Seperti diketahui, kata Ragil Nugroho, Minggu, (28/5/2023), Lembu Peteng untuk menggambarkan garis keturunan yang misterius.
“Sampai sekarang masih banyak yang memperdebatkan tentang sosok ayah Jokowi. Sederet tokoh Lembu Peteng dari Ken Arok sampai Soeharto pernah sebagai penguasa. Sosok Lembu Peteng inilah yang tidak dipahami anak kota seperti Adian Napitupulu. Tak mengherankan ia mendaku lima kali kemenangan Jokowi karena PDIP,” ujarnya.
Namun Ia menjelaskan, Jokowi lahir dari keluarga biasa-biasa saja, tak ada darah biru menetes dalam dirinya. Orangtuanya bisa digolongkan bagian dari Abangan, dibanding Santri atau Priyayi.
“Dalam masyarakat di pedesaan, kaum Abangan ini cukup banyak walaupun tidak pernah unjuk diri,” jawabnya.
Diapun menuturkan, Sebagaimana disampaikan Geertz dalam bukunya yang melegenda “The Religion of Java”, kaum abangan merupakan entitas masyarakat “yang mewakili suatu titik berat pada aspek animistis dari sinkritisme Jawa”.
“Mereka ini dalam masyarakat sebagian besar adalah kaum petani yang hidup di pedesaan. Jokowi hidup dalam kultur Abangan seperti itu,” sambungnya.
Ragil Nugroho berpandangan, Sebagai bagian dari kaum Abangan, Jokowi tumbuh menjadi borjuasi. Pendidikan di universitas mendorongnya tumbuh menjadi borjuasi lokal pada zaman Orde Baru.
“Bila sebagian borjuasi di Indonesia mempunyai koneksi dengan kekuasaan rezim Soeharto, Jokowi tumbuh di luar lingkaran itu. Sebagai pengusaha mebel ia membangun basis ekonominya dan membangun jaringan perkawanan,” pukasnya.
JOKOWI DAN PILKADA SOLO
Ketika maju dalam pilkada Solo, ia bukan politikus. Kemampuan negoisasinya ditempa ketika ia sebagai pengusaha.
Sebagai Abangan, ia mampu mengkonsolidasikan kelompok Santri perkotaan yaitu PKS dan kelompok Kristen Perkotaan yang terwadahi oleh PDS. Jadi tak benar jika hanya PDIP yang membawananya dua kali kemenangan dalam Pilkada Solo.
Dari Solo inilah ia mulai membangun citra dirinya...






