Pada saat putus kontak, posisi pesawat berada 85 mill laut sebelah barat laut makassar pada ketinggian jelajah 35,000 kaki.
Turut diberitakan jika radar milik Singapura telah menangkap pancaran emergency locator beacon (ELBA) di Rantepao, Tanah Toraja, Sulawesi Selatan dengan titik koordinat 3.135.257 lintang selatan/119.917 bujur timur.
Turut di beritakan jika sinyal darurat justru diperoleh dari ATC Singapura yang turut menangkap pancaran ELBA dimana kemudian mengindikasikan jika pesawat telah menyentuh daratan.
Belum ada kesimpulan akan penyebab jatuhnya pesawat pada saat itu namun diketahui cuaca memang sangat buruk dengan penelusuran kondisi pesawat sebelum terbang melalui dokumentasi hasil pemeriksaan mengindikasikan layak operasi.
Pesawat membawa beban cargo seberat 55,5 ton dengan bahan bakar yang mencukupi untuk 4 jam penerbangan sedangkan lama penerbangan rata-rata 2 jam 45 menit pada rute non-stop Surabaya-Manado.
Pencarian sempat menemui titik terang dengan ditemukannya ekor pesawat oleh nelayan diperairan majene pada tanggal 11 Januari 2007, namun setelah itu nihil. Pada tanggal 21 Januari 2007, perekam data penerbangan (FDR) dan perekam suara kokpit (CVR) ditemukan pada lepas pantai Sulawesi Barat oleh kapal AS Mary Sears yang saat itu dikerahkan untuk membantu pencarian.
Kapal AS Mary Sears dengan menggunakan unit side scan sonar (SSS) melakukan pemetaan area seluas kira-kira 10.3 km persegi dan menemukan sejumlah besar puing pesawat, mendeteksi dan kemudian mengambil FDR dan CVR pesawat.
Kotak hitam yang baru kemudian ditemukan pada kedalaman 2000 meter pada 28 Agustus 2007 ikut memperkuat indikasi penyebab terjadinya kecelakaan ini. Berdasarkan kajian fakta dan temuan yang dilakukan maka pada 25 Maret 2008, penyelidikan memutuskan bahwa cuaca buruk, kesalahan pada pilot dan kerusakan perangkat navigasi adalah penyebab jatuhnya pesawat.
Saat terbang diketinggian 35,000 kaki pilot sibuk memecahkan masalah sistem referensi inersia (INS, Inertial Navigation System) pesawat yang adalah bagian dari sistim navigasi pesawat sehingga mengarah pada disorientasi ruang.
Hal ini kemudian disusul oleh sistim Autopilot menjadi tidak aktif dan pilot gagal melakukan koreksi bahkan setelah alarm kemiringan pesawat diluar batas toleransi berbunyi, pilot tidak meratakan sayap sebelum mencoba mendapatkan kembali kendali.
Penelusuran kotak hitam mendapati pesawat mencapai 490 knot (910 km/jam) pada akhir rekaman yang mana melebihi kecepatan maksimum pesawat untuk menukik (400 knot).
Pesawat itu pecah dalam penerbangan sebelum tumbukan, dimana...






