CAHAYASIANG.ID // Banten – Di awal kepemimpinannya, Agus Syabarrudin sebagai Dirut Bank Banten dihadapkan tugas berat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Bank Banten yang saat itu tengah dalam pengawasan khusus OJK karena berbagai masalah, mulai dari kesulitan likuiditas, tingginya angka kredit macet, permodalan, tata kelola perusahaan, layanan berbasis teknologi informasi masih terbatas, hingga tidak ada kantor pusat yang memadai untuk efektifitas kordinasi.
Untuk mengurai segudang benang kusut tersebut, Agus beserta jajarannya mengusulkan Action Plan Penyehatan (APP) Bank Banten sebagai acuan yang selaras dengan 4 Grand Strategy dan 8 Quick Wins yang telah menjadi visi Agus untuk masa kepengurusannya yang telah ditetapkan sejak awal memimpin Bank Banten.
Langkah awal dari 4 Grand Strategy adalah people development dan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Meluncurkan budaya perusahaan baru “TRUST”, menetapkan KPI individual yang lebih terukur serta selaras dengan corporate goals, transparan dan 360⁰ melalui aplikasi PEDIG (Performance Digital) dan terangkum dalam HCIS (Human Capital Information System.
“Untuk GCG agar karyawan memiliki integritas yang baik dilakukan sertifikasi berstandar internasional anti penyuapan/gratifikasi, mempersiapkan LHKPN mulai pelaporan tahun 2021, bukan hanya pengurus dan L1/pejabat eksekutif saja, tapi L2 juga sudah melakukan pelaporan,” papar pria yang pernah mengemban amanah sebagai Dirut Bank Kalsel itu.
Sekitar dua puluh bulan Agus memimpin Bank Banten dengan segala tantangannya, benang yang kusut mulai terurai dengan fakta data finansial yang sudah dipublikasikan, di antaranya kepercayaan masyarakat untuk menempatkan dananya di Bank Banten sudah mulai kembali.
“Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) semua produk CA/SA/TD sebesar 30,8 persen year on year (yoy) September 2022 dibandingkan pertumbuhan DPK di perbankan sekitar 6,77 persen yoy,” ungkap Agus.
Pertumbuhan DPK yang merata di semua produk tabungan, giro, dan deposito, sambungnya, memberikan kontribusi menekan cost of fund (COF) menjadi 4,2 persen perbaikan sekitar 16 persen secara yoy. Rasio kecukupan likuiditas sudah aman terbukti dengannya posisi September 2022 alat likuid/DPK (AL/ DPK) 20,26 persen, alat likuid atau noncore deposit (AL/NCD) 110,12 persen, dan loan to deposit ratio (LDR) 75,03 persen. Sementara, kecukupan modal per September 2022 sebesar 39 persen. “Hal ini di antaranya karena keberhasilan penawaran umum terbatas VII (PUT VII) Oktober 2021 mendapatkan modal dari publik sebesar Rp618 miliar,” jelas Agus.
Lalu, pertumbuhan kredit pada September 2022 sebesar 33 persen yoy menjadi Rp3,1 triliun dibanding sebelumnya Rp2,3 triliun. “Ini di atas rerata industri sebesar 11 persen,” imbuhnya.
Rasio untuk mengukur perbandingan antara biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan operasional (BOPO) pada posisi September 2022 juga terjadi perbaikan drastis sebesar 53 persen yoy dari 180 persen pada September 2021 menjadi 127 persen pada September 2022.
“Efisiensi biaya, menekan COF (Cost of fund), penutupan 6 kantor cabang yang merugi, serta meningkatkan pendapatan bunga dan non bunga menjadi trigger perbaikan,” ia menerangkan.
Pendapatan bunga pun tumbuh signifikan sebesar 60 persen yoy dibandingkan September 2021 sebesar Rp209,8 miliar menjadi Rp336,5 miliar. Pendapatan fee base income dan pendapatan operasional lainnya meningkat 165 persen yoy dari Rp23,9 miliar menjadi Rp63,5 miliar.
Kinerja penanganan kredit bermasalah (NPL) secara yoy di september 2022 juga menunjukkan hasil yang on the right track, mengalami tren menurun. NPL net menjadi 2,5 persen dari posisi yang sama tahun lalu sebesar 4,5 persen. Sedangkan, NPL gross dari 18,24 persen menjadi 10,28 persen. Meski masih menanggung biaya yang ditangguhkan dari periode kepengurusan sebelumnya, secara bottom line berhasil menekan kerugian perseroan sebesar 13,69 persen, yakni Rp126 miliar lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang menderita kerugian Rp146 miliar.
“Beban biaya yang ditangguhkan yang harus dibukukan tahun...






