CAHAYASIANG.ID, MINUT – Ternyata banyak orang belum mengetahui, bahwa di ujung barat Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara terdapat Destinasi Wisata Bahari Hutan Mangrove, yang bak ‘Surga’ tersembunyi karena memiliki pemandangan eksotis nan fantastis.
Lokasi wisata ini dapat ditempuh dalam 1 jam 5 menit dari Kota Manado lewat Kelurahan Pandu. Destinasi Wisata Bahari Hutan Mangrove Palaes ini dibuka pada medio Desember 2021 yang memiliki banyak keunggulan yang tidak ada di destinasi wisata bahari lainnya. Saat memasuki lokasi, dapat disaksikan dua buah gasebo dan gapura yang dibangun oleh Lantamal VIII Manado bekerjasama dengan PLN Wilayah Suluttenggo. Kemudian pengunjung menyusur dermaga kurang lebih 100 meter yang diapit hutan bakau di kiri kanannya. Terdapat lapak kuliner di sisi kanan dermaga. Pengunjung bisa memesan makanan ringan seperti pisang goreng, kopi ataupun makan siang dengan harga terjangkau.

Di ujung dermaga, panorama eksotis khas hutan bakau bisa langsung disaksikan wisatawan. Terdapat terusan selebar kurang lebih 50 meter dengan gasebo di samping kiri yang membuat pemandangan jadi lebih memukau.
Tersedia perahu yang bisa disewa pengunjung dengan tarif 350 ribu untuk 1 sampai 15 orang, dan 16 dampai 25 orang 500ribu.
Perahu yang dikemudikan oleh orang yang berpengalaman ini bisa mengantar wisatawan menyusur terusan pergi pulang, dan bisa juga mengantar wisatawan ke Pulau Paniki yang memiliki pantai pasir putih yang menawan. Perjalanan ke Pulau Paniki ini kurang lebih hanya memakan waktu 15 menit.

Menurut Hukum Tua Desa Palaes, Grace Morong S.Pd MAP, pengelolaan destinasi wisata hutan mangrove ini dikerjakan oleh BUMDes setempat.
“Destinasi ini baru sekira dua tahun dibuka dan dikelola oleh Bumdes. Saat di lokasi, bila pengunjung tidak ingin berperahu, bisa mencoba Stand Up Padle Board(selancar dayung berdiri) dengqn biaya sewa 50ribu per jam. Penggunaan permainan ini dipandu oleh profesional. Ada juga Banana Boat yang bisa digunakan memuat pengunjung,” jelas Morong.

Lagi, menurut Morong, akses masuk ke lokasi destinasi ini dari desa kurang lebih 1 km dengan jalan yang dialas pasir dan batu.
“Bulan Maret nanti, Lantamal VIII Manado bekerjasama dengan PLN Wilayah Suluttenggo akan membangun jalan untuk akses masuk ke lokasi,” imbuh Hukum Tua Grace seraya mengajak para wisatawan, baik lokal dan mancanegara untuk berkunjung.
Dirinya menjamin bahwa pengunjung pasti tidak akan kecewa
Hukum tua Grace Morong-pun berterima kasih kepada pihak Lantamal VIII dan PLN Suluttenggo Manado yang sudah mensuport pembangunan destinasi ini.
Untuk tarif masuk ke-lokasi ini pengunjung ditagih rp. 5000 per orang. (Rubby Worek)






