CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Dalam Wawancara bersama Maekyung Media Group (MBN) yang merupakan jaringan media terbesar di Negeri Ginseng Korea Selatan (Korsel), Rabu (13/9/2023).

Dimana Pensiunan Jenderal Bintang 4 asal Kediri Jawa Timur ini melangsungkan kunjungan kerja ke Seoul Korsel untuk menjadi pembicara pada Forum Pengetahuan Dunia (World Knowledge Forum/WKF).
Forum ini sudah berlangsung sejak tahun 2000, dan mengumpulkan 200 Pengusaha maupun Pakar dari seluruh dunia guna memprediksi masa depan, setelah itu membahas solusi atas masalah-masalah global.
Panglima TNI Periode 2013-2015 itupun mengajak kawan lamanya Korsel, Berinvestasi menanamkan modalnya di sektor pertanian Republik Indonesia supaya kedua negara dapat mengantisipasi krisis pangan dunia bersama.
“Indonesia memiliki ketersediaan lahan, kondisi alam mendukung, kekayaan varietas, serta ketersediaan SDM dan pasar besar. Korsel punya teknologi pertanian maju, jika kerja sama ini dapat dimaksimalkan, bukan tidak mungkin Indonesia dan Korsel dapat menjaga ketahanan pangan. Bahkan bertumbuh di tengah ancaman krisis pangan dunia,” kata Moeldoko, menurut keterangan resmi yang sampai ke media ini, Rabu (13/9/2023).
Menurut Ketua Umum HKTI tersebut, Peluang kerja sama di Sektor Teknologi Pertanian, dapat menjadi peluang emas kedua negara guna tumbuh bersama di tengah ancaman krisis pangan dunia.
Dia menambahkan, Dunia agrobisnis global sedang mengalami masalah pelik yaitu regenerasi pelaku pertanian. Petani semakin tua dan anak muda tidak tertarik terjun ke dunia pertanian. Jika ini tidak segera diatas maka krisis pangan dunia bisa terjadi.
“Di Indonesia titik terang jawaban atas permasalahan ini sudah dilakukan. Anak muda sudah ikut terlibat dalam industri pertanian dengan pendekatan teknologi,” ungkap Moeldoko.
Dirinya kemudian menceritakan dengan penuh kebanggaan tentang gerakan anak muda untuk membangun pertanian Indonesia. Dimana aksi Gerakan Maju Tani Indonesia telah menghasilkan produk-produk pertanian unggul dengan menggunakan pendekatan teknologi, seperti bibit unggul dan mampu bertahan dari Gempuran Hama serta Cuaca.
“Mereka (Gerakan Maju Tani Indonesia) juga menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam produksi, sehingga terjadi efisiensi,” sebut Moeldoko.
GERAKAN MAJU TANI INDONESIA SEBAGAI NEO MARHAEN
Lulusan Akademi Militer tahun 1981 ini coba menjelaskan, Gerakan anak-anak muda dalam memajukan sektor pertanian melalui pendekatan teknologi ini merupakan modernisasi konsep Marhaen oleh Presiden Pertama Indonesia Soekarno.
Kepala Staf Kepresidenan juga mengatakan, Soekarno bertemu seorang petani bernama Marhaen yang memiliki lahan dan alat pertanian namun mengaku miskin.
“Disitulah kemudian tercetus ide gagasan dari Pak Karno untuk menyejahterakan dan memberikan keadilan bagi petani. Untuk itu, Saya menyebut Gerakan Maju Tani Indonesia ini sebagai Neo Marhaen,” tutur Moeldoko



