CAHAYASIANG.ID, JAKARTA – Naiknya Peringkat Militer Indonesia Ke Peringkat 13 Dunia mendapat apresiasi dari Pengamat Birokrasi Varhan Abdul Aziz.

Ia menyampaikan bahwa Pada 2019 Indonesia berada di peringkat 13 berdasarkan data Globar Firepower Rank, naik 6 peringkat merupakan prestasi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam 5 tahun menjalankan amanat yang diemban.
Varhan mengatakan bahwa kenaikan 6 tingkat ini bukanlah hal mudah karena melibatkan banyak faktor kemajuan yang diukur.
“Mulai dari jumlah personel kita peringkat 12 dunia dengan 400rb pers, usia personil militer siap pakai kita peringkat 3 dunia, alutsista kita Untuk Angkatan Udara, total pesawat udara TNI 466 unit, yaitu pesawat tempur, helikopter, tanker, sampai pesawat transport,” ungkapnya.
Wakil Bendahara Umum DPP KNPI ini melanjutkan bahwa Bukan hanya udara GFP juga mengukur kekuatan Angkatan Darat, Indonesia mempunyai 314 tank, kendaraan tempur baja 12,008, Artillery 153, roket 63, meriam tembak 414 buah.
“Sedangkan Alutsista Angkatan Laut kita peringkat 6 dunia. total unit sebanyak 324,terdiri dari kapal perang Frigates, Corvettes, Submarines, Patrol Vessels, dan Mine Warfare,” pujinya.
Ia menyampaikan dengan 131.9 triliun Anggaran Kemhan sebetulnya itu dibagi untuk 5 Instansi, Mabes TNI, AD, AU, AL, Kemhan sendiri hanya 22.43 Triliun, terbesar di AD yang mendapat 55.26 T yang dianggap sesuai dengan jumlah personil terbesar.
“Untuk Alutsista sendiri rasio yang realistis hanya bisa di 17% seperti halnya belanja pemerintah di Instansi lainya terbesar tentu di belanja pegawai, namun hebatnya Pak Prabowo ini, dengan anggaran yang menyebar reformasi Alusista bisa dibuat efisien dan meningkatkan value pertahanan negara kita,” sebutnya.
Varhan juga mengingatkan bahwa di masa Menhan Prabowo Indonesia menjadi Negara dengan kekuatan Militer nomor 1 di Asean.
“Nomor 13 di Dunia itu kita diatas Ukraina, Australia, Jerman, Israel dan Iran. Jadi bukan semata-mata tentang perang atau tidak perang, namun dalam konsep ketahanan nasional bagaimana suatu negara siap menghadapi Ancaman Tantangan Hambatan dan Gangguan (ATGH),” bebernya.
Ia menegaskan apa yang disampaikan Menhan Prabowo melalui quotes Publius Renatus yg disadur oleh Napoleon ‘Si Vis Pacem Parabelum (Jika Menginginkan Perdamaian Harus siap Berperang)’ adalah benar adanya.
“Faktor utama dalam menjaga keseganan teritorial adalah alutsista, berbeda era dengan zaman perang dunia 1 atau 2 bahkan sebelum itu dimana biaya alutsista relatif lebih murah karena teknologi yang sederhana, alutsista masa kini semakin modern dan mahal maka pilihan realistis adalah merinci dan menambah kelengkapan Alutsista Indonesia tahu ke tahun!,” serunya.
Varhan berpandangan, bila Pertahanan tidak menjadi salah satu prioritas maka negara lain bisa saja meremehkan kita dan dengan mudahnya kita mendapat potensi gangguan kedaulatan dan seluruh sumber daya kita yang harus dilindungi untuk rakyat.
“Kalau kita tidak mempersiapkan alutsista yang layak, ketika potensi serangan itu hadir, dapat menghancurkan semua pondasi ekonomi, pendidikan, hukum, sosial yang di bangun, peran Menhan Prabowo besar dalam menjaga stabilitas yang sudah dibangun Kabinet Jokowi ini,” jelasnya.
Varhan juga memuji kiprah Menhan dalam mempersiapkan infrastruktur pertahanan antara lain direalisasikannya Komcad, Penguatan Industri Pertahanan Dalam Negeri, Peningkatan Institusi Pendidikan Ketahanan Nasional, Hingga Penguatan Ketahanan Pangan.
“Komcad selama ini hanya jadi konsep dan wacana, baru di zaman pak prabowo terealisasi kelembagaannya, pembuatan kendaraan taktis maung juga lahir di era pak Prabowo, lalu ada 4 Fakultas Baru yang ia prakarsai di Universitas Pertahan dan Konsep Food Estate sebagai bagian dari Konsep Pertahanan Semesta yang terus dimaksimalkan,” analisisnya.
Terakhir, Dia juga bersuara mengenai bahayanya potensi Proxy War, dimana perang senjata bukan lagi menjadi pilihan utama, karena mahalnya biaya yang ditimbulkan.
“Saya melihat Pak Prabowo terlihat visioner ketika aktif dalam Forum-forum Dunia untuk menegaskan posisi Politik Bebas Aktif Indonesia, berkawan dengan sebanyak-banyaknya negara agar tidak perlu terjadi serangan-serangan baik militer maupun proxy, seperti yang selalu beliau katakan, satu musuh kebanyakan, 1000 kawan terlalu sedikit,” kuncinya. ***
#MenteriPertahanan #PrabowoSubianto
#VarhanAbdulAziz






