Oleh: Ferry Daud Liando, Pelopor S-2 Kepemiluan, Akademisi Kepemiluan yang sering terlibat sebagai Timses penyelanggara pemilu di berbagai daerah, Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan Fispol Universitas Sam Ratulangi, Pengurus Pusat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia.
CAHAYASIANG.ID, Opini – Siapapun Presiden yang akan terpilih pada pemilu 14 Februari 2024 tentu warga negara Indonesia akan sangat diuntungkan, karena ketiga calon presiden saat ini yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan memiliki kelebihan masing-masing.

Paling tidak semuanya telah memiliki pengalaman kepemimpinan pemerintahan. Tidak pernah berurusan dengan hukum karena korupsi dan masalah moral lainnya. Namun demikian, ketiganya tetap memiliki sisi lemah terutama jika salah satunya terpilih sebagai presiden.
Pak Prabowo di dukung oleh 4 parpol peraih kursi di DPR yakni Gerindra, Golkar, PAN dan Demokrat. Selain dukungan parpol parlemen, Pak Prabowo juga di dukung oleh parpol-parpol non parlemen, seperti partai gelora dan PSI.
Jika Pak Prabowo akan terpilih maka ia akan mengalami kesulitan dalam menyatukan berbagai kepentingan dari anggota parpol pendukungnya.
Semakin banyak parpol pendukung, maka akan semakin banyak kepentingan. Disisi lain, tidak akan mungkin semua wacana kebijakan Prabowo mendapatkan dukungan dari semua parpol pendukungnya.
Meski sama-sama mendukung Prabowo, namun masing-masing Parpol punya visi politik yang berbeda, dan pencapaian visi politik masing-masing parpol itu, merupakan tanggung jawab masing masing parpol pada konstituennya.
Diawal pemerintahan kemungkinan Pak Prabowo akan kesulitan berbagi kursi menteri pada parpol-parpol pendukungnya.
Bagi Pak Ganjar, kesulitan yang kemungkinan besar akan beliau hadapi adalah pasangannya sendiri sebagai capres.
Pak Ganjar berpasangan dengan Prof Mahfud MD. Dari aspek intelektual dan pengalaman kepemimpinan, Prof Mahfud masih lebih menonjol ketimbang pak Ganjar. Prof Mahfud adalah satu-satunya figur yang pernah menjabat tiga cabang kekuasaan secara utuh.
Di legislatif, beliau pernah menjadi anggota DPR RI. Di yudikatif beliau pernah menjadi Ketua MK. Di Eksekutif beliau pernah jadi menteri di dua presiden, yakni saat Presiden Gus Dur, dan Presiden Jokowi.
Pak Mahfud juga menguasai pengetahuan keagamaan dan intelektual hukum secara sempurna. Pada saat ditetapkan sebagai cawapres, Prof Mahfud menyatakan akan menggunakan segala pikiran dan pengetahuannya jika akan terpilih.
Pak Ganjar berpotensi tidak akan leluasa menyesuaikan dengan gaya kepemimpinan Prof Mahfud. Bisa jadi akan ada semacam dua matahari dalam kepemimpinan pemerintahan.
Fenomena semacam ini pernah dialami Pak SBY dengan Pak Jusuf Kalla. Akibatnya Pak SBY tidak melanjutkan kepemimpinan bersama dengan pak Jusuf Kalla di jabatan periode kedua.
Pak Anis bukan kader parpol apalagi ketua parpol.
Kesulitannya adalah tidak semua apa yang ia janjikan saat kampanye akan benar akan dibuktikannya pada saat berkuasa. Sebab keinginannya itu harus mendapat restu dari parpol yang mengusungnya terutama Nasdem.
Sehingga kemungkinan besar apa yang bisa dilakukan Pak Anis ketika berkuasa adalah proposal politik dari parpol yang mengusungnya. Kecerdasan yang ia miliki akan kalah dengan kepentingan pragmatis parpol yang mendukungnya.
Dari sisi-sisi kelemahan diatas, ketiganya memiliki tipologi yang sama yakni sama-sama sebagai penguasa boneka.
Ketiganya tidak akan bebas, karena diduga hanya akan merepresentasikan kepentingan Pak Jokowi, Ibu Mega dan Pak Surya Paloh ketika akan berkuasa. (*DW)






