CAHAYASIANG.ID // Jakarta – Analis Politik Universitas Sam Ratulangi (UNSAT) Ferry Liando memberikan tanggapannya saat dihubungi CAHAYASIANG.ID hari Jumat (17/3/2023).
Ferry Liando mengatakan, Jika Prabowo benar-benar akan berpasangan dengan Pak Ganjar, dan tidak berpasangan dengan Cak Imin maka resiko terbesar, adalah gagalnya Prabowo untuk jadi capres.
“Sebab, gerindra tidak memenuhi syarat mengusung capres dan cawapres. Undang-Undang pemilu menyebut bahwa syarat parpol mengusung capres dan cawapres harus memiliki sebanyak 20 persen kursi di dpr ri atau sebanyak 25 persen suara hasil pemilu 2019,” ujarnya.
Analisis jebolan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) itu menjelaskan, Hanya PDI Perjuangan yang saat ini memenuhi syarat.
“Gerindra tidak capai angka ambang batas. Maka untuk bisa gerindra mengusung capres dan capres adalah dengan cara mengajak parpol lain yg memiliki jumlah kursi tambahan agar syarat ambang batas presidential treshold terpenuhi,” jelasnya.
Selama ini, menurut punggawa AIPI itu, sudah terbangun komunikasi politik antara GERINDRA dengan PKB. Namun, jika bukan Cak Imin yang dipaketkan dengan Prabowo, maka wajar jika PKB akan membatalkan kerja sama yang sudah di bangun.
“Nah, jika PKB keluar dari GERINDRA maka tak mungkin prabowo jadi capres.
Jika PKB dan Cak Imin keluar, maka Prabowo dan GERINDRA harus mencari parpol lain yang memiliki kursi di dpr untuk memenuhi syarat ambang batas,” tambahnya.
Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan Unsrat tersebut berpikir, Sangat berat bagi gerindra untuk mencari parpol lain, sebab semua parpol di DPR sudah terbentuk gerbong masing-masing. Walaupun masih memungkinkan untuk terpecah-terpecah.
“Misalnya, nasdem hingga kini belum absolut membentuk gerbong bersama pks dan demokrat. Kemudian, PAN juga sepertinya mulai membuat jarak dengan GOLKAR dan PPP, akibat dukungannya pada Ganjar Pranowo dan Erick Thohir,” sambungnya.
Di satu sisi, Ferry Liando sangat menyesalkan dengan prilaku elit-elit politik saat ini.
“Ancaman PKB untuk keluar dari gerbong gerindra, jika ketum pkb tidak jadi cawapres seolah-olah menunjukan bahwa koalisi parpol hanya sebatas bagi-bagi jabatan kekuasaan,” ungkapnya.
Disisi yang lain, Ferry Liando menyayangkan, Koalisi parpol yang sering diklaim elit politik, bahwa koalisi antar parpol sengaja di bangung untuk kepentingan rakyat ternyata hanya dusta semata.
“Jika memang koalisi parpol di bangun untuk kepentingan rakyat, harusnya tanpa ada jabatan dalam kekuasaanpun maka koalisi parpol tetap utuh sampai kepentingan rakyat terwujud,” himbaunya.
Sementara, Ferry Liando beranggapan, Bubarnya koalisi parpol, karena ada elit yang tidak kebagian jabatan sangat tidak elok dan tidak pantas jadi contoh. (Deon)






