• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Saturday, 7 March 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » Talaud Cegah Stunting Demi Generasi Unggul

Talaud Cegah Stunting Demi Generasi Unggul

07/04/2022
in Kepulauan
0
Share on FacebookShare on Twitter

CAHAYASIANG.ID // TALAUD – Pencegahan dan penanggulangan stunting merupakan salah satu upaya yang sangat strategis untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul.

“Pencegahan stunting merupakan investasi pembangunan SDM dalam jangka panjang. Jika tidak maka akan menjadi beban Indonesia ke depan, khususnya Kabupaten Kepulauan Talaud,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud Yohanis B. K. Kamagi, di Melonguane.

Yohanis berbicara dalam kegiatan Rapat koordinasi (Rakor) pencegahan stunting yang melibatkan stakeholder terkait dan turut dihadiri Ketua DPRD Talaud Jakob Mangole, kepala OPD terkait, Kepala RSUD Mala dan RSB Gemeh, camat, lurah/kades, serta kepala Puskesmas se-Talaud.

Sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk pada Desember 2021 mencapai 273.879.750 jiwa dan diprediksi akan mencapai 318,96 juta jiwa pada 2045, Indonesia menjadi negara yang punya modal tenaga kerja yang luar biasa. Kementerian PPN dan BPS dalam laporan Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045 memperkirakan penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) mencapai 207,99 juta jiwa.

Bonus demografi ini di satu sisi menjadi berkat bagi Indonesia. Karena, usia produktif inilah yang akan menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Namun, di lain sisi bonus demografi ini bisa menjadi malapetaka. Sebab banyak agen penggerak perekonomian nasional masa depan (baca:Balita) kita menderita stunting. “Saat ini satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting,” kata Wapres Ma’ruf Amin.

Andriyanto, Alumnus Program Doktor PSDM Unair dan Kepala Laboratorium Gizi Jawa Timur, dalam harianbhirawa.co.id, mengatakan, “Stunting akan berakibat terhambatnya pertumbuhan fisik anak menjadi pendek, berakibat gangguan kognitif atau kecerdasan, serta gangguan penyakit metabolik ketika sudah berumur di atas 40 tahun. Akibatnya pendidikan dan produktivitas rendah, kemiskinan akan terus membelenggu dan pada gilirannya kualitas SDM bangsa Indonesia secara keseluruhan menjadi rendah.”

Meski begitu, kita harus tetap optimis. Stunting bukan masalah genetik, tetapi persoalan pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak sejak anak di dalam kandungan sampai usia dua tahun. Karena itu, stunting masih dapat dicegah dan ditanggulangi. Apalagi bila semua pemangku kepentingan serta masyarakat bekerja sama, niscaya akan lebih mudah teratasi.

“Karena itu, untuk mencapai hal tersebut (membebaskan anak dari stunting) sangat diperlukan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pantauan serta pengadaan kegiatan lintas sektor dan juga tingkat pemerintah dan masyarakat,” kata Yohanis.

Menurutnya, untuk mengoptimalkan dan mengefektifkan upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di daerah, pemerintah daerah akan menetapkan lokasi prioritas pencegahan stunting tahun 2023. “Dan diharapkan lokasi fokus ini benar-benar ditetapkan sesuai dengan indikator analisis situasi,” kata Yohanis lagi.

Masalah stunting memang bersifat multidimensi. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari kemiskinan, kurangnya pengetahuan ibu, gaya hidup, sosial budaya bahkan politik.

“Oleh karena itu, pencegahan stunting kuncinya ada pada masyarakat dan perubahan prilaku. Semua pihak juga harus ikut berperan, karena pemerintah daerah tidak bisa, jika hanya sendirian mengatasi masalah ini,” pungkas Yohanis. (Pembe)

Post Views: 3,007
Bagikan ini :
Previous Post

Pemuda Mabuk Buat Keonaran di Melonguane Ditangkap Polisi

Next Post

Semakin Ditekan, Animo Masyarakat Berobat ke Dokter Terawan Semakin Besar

Next Post

Semakin Ditekan, Animo Masyarakat Berobat ke Dokter Terawan Semakin Besar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In