
CAHAYASIANG.ID, Manado — Tragedi memilukan terbakarnya KM Barcelona dalam pelayaran dari Kepulauan Talaud menuju Manado menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban. Deretan korban yang meninggal dunia, hilang, hingga luka berat bahkan mengalami trauma psikologis mengundang sorotan tajam publik terhadap standar keselamatan kapal penumpang.
Aktivis perempuan Sulawesi Utara, Yuni Wahyuni Srikandi, menyuarakan keprihatinannya usai mengunjungi keluarga korban di Terminal Penumpang Pelabuhan Manado. Yuni menyaksikan langsung kesedihan mendalam para keluarga korban, terlebih mereka yang hingga kini belum menemukan anggota keluarga yang masih dinyatakan hilang.
“Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami musibah ini. Namun, bila sistem keselamatan kapal berjalan baik, setidaknya potensi korban jiwa bisa diminimalisir. Ini kenapa Life Raft wajib disediakan dan difungsikan sebagaimana mestinya,” tegas Bunda Yuni, sapaan akrabnya.

Ia menegaskan, fungsi utama Life Raft atau sekoci adalah sebagai alat evakuasi darurat lengkap dengan fasilitas keselamatan dan kebutuhan dasar untuk penumpang dan awak kapal. Life Raft dirancang untuk mengapung, menampung penumpang hingga bantuan datang.
Namun, fakta tragis di lapangan berkata lain. “Mengapa begitu banyak korban jatuh jika kapal memiliki kelengkapan liferaft? Apakah alat ini sekadar formalitas, hanya sebagai ‘pajangan’ di atas kapal?” sindir Yuni dengan nada kecewa.
Yuni pun menyoroti peran awak kapal (ABK) yang seharusnya menjadi garda terdepan menyelamatkan penumpang terutama wanita, anak-anak, balita, dan lansia saat terjadi insiden. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan lambatnya evakuasi, bahkan korban terpaksa berenang menyelamatkan diri sendiri.

Tidak hanya pemilik kapal yang disorot, Yuni juga meminta klarifikasi dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Manado, khususnya Marine Inspector yang memiliki kewenangan mengawasi dan menguji kelayakan fasilitas keselamatan kapal.
“Apakah Liferaft dan perlengkapan keselamatan KM Barcelona rutin diperiksa? Apakah telah memenuhi standar keselamatan pelayaran? Termasuk HRU (Hydrostatic Release Unit) sebagai komponen penting life raft — apakah berfungsi baik? Ini harus dijawab secara terbuka,” tandas Yuni.
Menurutnya, tragedi KM Barcelona harus menjadi alarm keras bagi semua pihak agar pengawasan keselamatan kapal penumpang tidak lagi sekadar formalitas, tetapi menyangkut nyawa manusia. “Jangan sampai liferaft hanya menjadi pemanis kapal, tapi tidak bisa menyelamatkan jiwa manusia saat bencana datang,” tutup Yuni dengan suara lantang.(*RS)






